Home / Konsultasi / BOLEHKAH MENIKAHI MANTAN ISTRI SETELAH MENJATUHKAN TALAK 3.

BOLEHKAH MENIKAHI MANTAN ISTRI SETELAH MENJATUHKAN TALAK 3.

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on WhatsappShare on Google+Pin on Pinterest

Pertanyaan :

Pak Kyai saya mau tanya tentang nikah lagi bagi orang yang cerai (talak tiga). Saya pernah baca artikel bahwa Said bin Musayyab memperbolehkan muhallil dan tidak mensyaratkan harus dukhul bagi muhallil terhadap wanita yang dinikahinya. Jadi cukup akad nikah setelah dicerai dan selesai masa iddah si wanita boleh dinikahi oleh suami yang pertama. Padahal Nabi mensyaratkan harus dukhul atau menggauli dengan istilah harus merasakan madunya. Apa sebenarnya dalil Said bin Musayyab dan bagaimana penjelasannya? (Abdul Ghaffar, Medokan Semampir Surabaya)

Jawab:

Pada dasarnya suami yang sudah menceraikan istrinya tiga kali, maka ia tidak diperbolehkan kembali kepada mantan istrinya alias menikahi kembali. Kecuali sang istri sudah menikah dengan laki-laki yang lain, maka sang suami diperbolehkan kembali menikahi mantan istrinya dulu setelah ia cerai dan habis masa iddahnya.

Hukum ini didasarkan pada firman Allah yang berbunyi:

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلاَ تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ، فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَنْ يَتَرَاجَعَهَا إِنْ ظَنَّآ أَنْ يُقِيْمَا حُدُودَ اللهِ، وَتِلْكَ حُدُودَ اللهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui”. (Qs. Al-Baqarah [2]:230)

Pada ayat di atas hanya menjelaskan syarat kembali boleh menikahi, sang mantan istri harus sudah menikah dengan laki-laki yang lain, tanpa ada penjelasan harus sudah digauli (berhubungan badan) atau belum dan dengan niat menghalalkan atau tidak. Maka ayat di atas masih bersifat umum, yang penting sudah menikah dengan laki-laki yang lain.

Kemudian penjelasan secara rinci yang mengaharuskan sudah digauli itu berdasarkan hadis laporan Aisyah tentang peristiwa Rufa’ah yang telah menceraikan istrinya tiga kali, ketika ia ingin kembali kepada istrinya Rasulullah saw bersabda :

لا حتى تذوقي عسيلته ويذوق عسيلتك

“tidak boleh Rufa’ah, kecuali (dia sudah menikah dengan laki laki lain) dan merasakan madunya dan laki-laki itu juga merasakan madunya juga”. (Hr. Bukhari:5734).

Maka hadis ini bersifat menjelaskan dari ayat di atas yang masih umum.

Kemudian masih ada hadis lain yang meperjelas cara pernikahannya yang tidak direncanakan. Dalam artian tidak ada unsur kesengajaan dalam pernikahan kedua untuk memberikan kesempatan mantan suaminya kembali kepada istrinya.

Hal ini didasarkan pada pada hadis laporan Ismail yang menyatakan ;

لَعَنَ اللَّهُ الْمُحَلِّلَ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ

“Rasulullah melaknat muhallil (orang yang menikahi) dan muhallal lah (suami lama yang akan dihalalkan). (Hr. Abu Dawud:2078)

Dan jumhur ulama (mayoritas ulama) sepakat bahwa syarat mantan istri bisa halal harus sudah pernah menikah dengan laki-laki lain dan sudah digauli tanpa ada rekayasa.

Oleh sebab itu, pendapat Said bin Musayyab dianggap menyendiri dari pendapat ulama lainnya. Karena beliau hanya berpegangan pada dhahir ayat pada surat Al-Baqarah di atas. Ada yang berpendapat, Said bin Musayyab berpendapat seperti itu karena beliau belum mendengar hadis – hadis yang merincikan ayat di atas. Maka beliau berpandangan hanya sekedar menikah saja sudah boleh menikah lagi dengan mantan istrinya setelah selesai masa iddah. Wallahu a’lam.

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on WhatsappShare on Google+Pin on Pinterest

About Imam Ghazali

mm
DR. KH. Imam Ghazali Said, MA adalah Pengasuh PESMA AN-NUR dan Dekan Fakultas ADAB UIN Sunan Ampel Surabaya

Check Also

Kedudukan Hadis Tentang Tidurnya Orang Puasa Ibadah

Share this... Pertanyaan: Assalamualaikum Ustadz, apakah hadis yang menyebutkan bahwa tidur pada waktu puasa itu ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *