Home / Artikel / Diaspora Kaum Yahudi

Diaspora Kaum Yahudi

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest
Sahara sekitar jabal Nebo, Kawasan Bani Israel Terkepung Selama 40 Tahun.

 

Setelah persatuan dan kesatuan Kerajaan Israel warisan king David dan Solomon itu tak mampu dipertahankan, dan dekadensi moral terus melanda bangsa ini, maka pada 740 SM bangsa Asyuri dari Iraq menyerang 2 Kerajaan: Yahuda dan Israel ini. Tetapi pendudukan bangsa Asyuri tidak berlangsung lama, karena bangsa Babilonia menyerang pusat kekuasaannya di Irak sekaligus menyerang “jajahannya” di Yerusalem dan tanah Palestina yang lain. Bangsa Babilonia ini dibawah raja Bukhtansor meluluh lantakkan semua budaya warisan David dan Solomon termasuk Syinagog (masjid Aqsho ?) di bukit Moriah, istana di bukit Zion, istana dan Solomon Temple (haykal Sulaiman) di altar bukit Moriah.

Raja Bukhtansor dari Babilonia ini menawan bangsawan, ilmuwan dan rakyat Yahudi dan menjadikan mereka sebagai budak. Bahkan wanita-wanita muda Yahudi yang masih muda dan cantik dipaksa untuk menjadi pelacur. Masa selama 200 tahun ini populer dengan masa diaspora pertama. Sebagian dari Bani Israel ini bisa menyelamatkan diri bermigrasi ke Yaman, Yastrib, Mesir, dan negara-negara di Eropa.

Pada 539 SM Kisra Cyrus Agung dari Persia (Iran) menyerang seluruh wilayah kekuasan Babilonia termasuk Yerusalem dan sekitarnya. Babilonia bertekuk lutut pada Cyrus Agung. Sang Kisra membebaskan kaum Yahudi untuk menjadi bangsa merdeka, sekaligus mengijinkan mereka untuk kembali ke Yerusalem. Walaupun kisra Cyrus dan bangsa Persia beragama Zeroaster (Majusi), tapi kisra ini membantu kaum Yahudi membangun Synagog yang telah dihancurkan oleh Bukhtansor dari Babilonia itu. Untuk sementara -walaupun tidak berkuasa-kaum Yahudi hidup dalam kebebasan beragama di bawah kekuasaan Cyrus Agung dari Persia.

Pada 332 SM Alexander Agung penakluk dari Yunani menyerang Mesir, Irak, Iran India dan Palestina, tentu termasuk kota suci Yerusalem. Walaupun demikian, aktifitas sosial dan keagamaan kaum Yahudi tidak diusik. Mereka masih merasa nyaman di bawah kekuasaan bangsa Yunani dari Eropa ini. Interaksi dengan penguasa Eropa ini membuat sebagian kaum Yahudi murtad dengan mengikuti dan teologi Yunani yang tentu berbau syirik jauh dari agama tauhid. Bahkan diantara mereka “berkoalisi” dengan orang-orang Yunani membangun tempat ibadah yang populer dengan Juphiter di altar bukit Moriah tidak jauh dari Synagog yang dibangun oleh king David dan Solomon.

Pada 200 SM raja Herodes dari Roma menaklukkan kekuasaan Yunani di Yerusalem dan sekitarnya. Walaupun demikian, kaum Yahudi di Yerusalem tidak diusik. Bahkan raja Herodes ini membantu mereka untuk merenovasi Synagog yang sempat dihancurkan oleh raja Babilonia dan dibangun kembali oleh Cyrus Agung dari Persia. Sayangnya kaum Yahudi tidak mau diuntung, mereka pada 66 SM memberontak dengan cara menguasai secara penuh kawasan Yerusalem dan sekitarnya tanpa memberi akses secara bebas pada penguasa Romawi Jadi, ketika Yesus lahir (natal) pada tahun 01 M, kawawasan Yerusalem dikuasai kaum Yahudi. Walaupun secara the facto penguasa riil ada di tangan raja Herodes dari Romawi ini.

Pada 70 M panglima Romawi Titus mampu menaklukan Yerusalem yang sementara ini secara terbatas dikuasai oleh kaum Yahudi. Jendral Titus dengan garang membunuh kaum Yahudi dan memperbudak mereka sesuai dengan hukum perang yang berlaku saat itu. Titus menghancurkan Synagog dan Juphiter di puncak dan altar bukit Moriah. Sebagian besar tawanan Yahudi ditawan dan dibawa ke Roma (ibu kota Italia). Kaum Yahudi yang berhasil lolos dari penangkapan, migrasi ke berbagai negara di dunia Arab: Yaman, Yasrib, Irak, Mesir, Sudan dan ke negara-negara Eropa (barat dan timur) Peristiwa tahun 70 M ini dikenal sebagai Diaspora II kaum Yahudi.

Sejak tahun 70 M. sampai abad ke 19 M. kaum Yahudi meninggalkan Yerusalem dan tanah Palestina. Jika masih ada yang tersisa, mereka tinggal di Yerusalem dan di tanah Palestina itu tidak lebih 0,2 % dari populasi Yahudi yang menyebar (diaspora) ke seluruh dunia. Yerusalem, dan kawasan sekitarnya dalam perjalanan waktu menjadi tempat pemukiman bangsa Arab yang berasimilasi dengan bangsa Romawi, Yunani dan lain-lain. Tentu, dalam waktu lebih dari 1900 tahun, kaum Yahudi sudah kehilangan hak milik tanahnya yang sdh mereka tinggalkan. Wallahu a’lam.

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

About Imam Ghazali

mm
DR. KH. Imam Ghazali Said, MA adalah Pengasuh PESMA AN-NUR dan Dekan Fakultas ADAB UIN Sunan Ampel Surabaya

Check Also

Whatsapp Dan Kita

Share this... “Ilmu,” kata Emha Ainun Nadjib, “tidak bisa diberikan karena ilmu hanya bisa dicari ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *