Home / Konsultasi / Fenomena Kesurupan Dalam Pandangan Islam.

Fenomena Kesurupan Dalam Pandangan Islam.

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest
Ilustrasi
Ilustrasi

Pertanyaan: 

Assalamualaikum Kyai, Sebelumnya minta maaf Abi, saya mau tanya, seharian ini tadi di sekolahan tempat saya mengajar ada lima anak yang berteriak-teriak histeris seperti kesurupan. Sebenarnya pandangan Islam mengenai orang yang kesurupan itu bagaimana Abi? Apakah ada hadis atau kisah mengenai hal ini? terus bagaimana sikap kita yang ada di sekitarnya? Harus berbuat apa? Terima kasih, Abi. Wassalamualaikum wr wb. (Hamba Allah, Surabaya)

Jawab:

Pada dasarnya kesurupan itu dapat dikategorikan ke dalam dua macam. Pertama, adalah kesurupan yang diakibatkan oleh gangguan fisik atau stress yang sangat buruk dan kedua, diakibatkan dari gangguan jin jahat yang ada hidup bersama-sama kita, umat manusia.

Bagian yang pertama hanya para ahli dokter dan kesehatan yang mengetahui seluk beluk dari bentuk kesurupan ini. Ternyata, dunia kedokteran juga berpandangan bahwa stres berat juga dapat berakibat pada kesehatan otak dan pikiran, sehingga dapat mengganggu pelakunya bersikap kurang sehat.

Adapun kesurupan bentuk yang kedua sangat identik dengan keyakinan kita terhadap bangsa Jin. Mereka (jin) dapat melihat kita (manusia), tapi kita tidak dapat melihatnya. Allah berfirman :

“Sesungguhnya ia dan kelompoknya dapat melihat kalian (manusia) dari suatu tempat yang kalian tidak dapat melihatnya”. (Qs. al-A’raf: 27)

Oleh sebab itu wajib meyakini akan adanya bangsa jin, dan mengingkarinya termasuk kufur. Sebab, Allah menjelaskan eksistensi jin itu sendiri pada beberapa ayat Alquran. Di antaranya adalah :

“Tidaklah kuciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah kepadaku”. (Qs adz-Dzaariyaat: 56)

Kemudian kondisi jin juga ada yang baik, ada juga yang buruk, artinya ada yang beriman dan ada juga yang kafir. Hal ini sebagaimana dijelaskan di dalam Alquran:

“Dan sesungguhnya di antara kami ada yang muslim (taat) dan ada pula yang menyimpang dari kebenaran”. (Qs. al-Jin:14)

Demikian pula jin muslim, ada yang taat (saleh) ada juga yang berbuat maksiat. Allah berfirman :

“Dan sesungguhnya di antara kami ada yang saleh, dan ada juga yang tidak demikian (tidak saleh)”. (Qs. al-Jin:11)

Nah, jin-jin yang kafir ini lah, yang selalu menggoda manusia untuk berbuat maksiat, yang lebih sering kita kenal dengan sebutan syetan. Padahal, syetan yang menggoda manusia itu tidak hanya jin tapi juga syetan manusia. Rasul sendiri juga sempat beberapa kali didatangi oleh bangsa jin yang menggodanya. Aisyah melaporkan bahwa :

“Ketika Rasul salat, datanglah jin kepadanya. Lalu Rasul menangkap dan membantingnya. Sehingga Rasul bersabda: “(aku tangkap ia) sampai aku rasakan lidahnya yang dingin di tanganku”. (Hr. Nasa’i).

Abu Hurairah juga melaporkan bahwa rasul memberikan amanah kepadaku untuk menjaga harta zakat di bulan Ramadhan. Kemudian datanglah seseorang, lalu ia mengembail zakat dengan tangannya. Aku memperingatkannya: “Demi Allah, kamu akan aku laporkan ke Rasul”.

Lalu ia berkata: “saya sangat butuh zakat sebab keluargaku butuh makanan”. Maka aku membiarkannya pergi. Di pagi harinya, Rasul bertanya kepadaku: “Apa yang dilakukan tahananmu semalam?”.

Lalu Abu Hurairah bercerita tentang peristiwa itu, dan sampai akhirnya jin itu mengajarkan ayat kursi untuk membentenginya dari gangguan jin jahat (syetan). Dan hal ini dibenarkan Rasul, sambil bersabda: “saat ini dia benar ucapannya, padahal ia pembohong, ia adalah syetan”. (Hr. Bukhari).

Di atas adalah beberapa bukti interaksi jin dengan manusia. Adapun bukti atau dalil adanya orang kesurupan adalah firman Allah :

“Orang-orang yang memakan riba tidak akan bisa berdiri kecuali seperti berdirinya orang yang kerasukan syetan lantaran gila …”. (Qs. al-Baqarah:275)

Ibnu Jarir al-Tabari menyatakan bahwa kata al-mass adalah orang-orang gila atau hilang akalnya. Imam al-qurtubi juga menyatakan dengan tegas bahwa ayat ini adalah hujjah atau bukti adanya orang kesurupan di dunia ini. yaitu orang-orang yang hilang akal akibat dari gangguan jin-jin yang berbuat jahat.

Kemudian sikap kita yang benar menghadapi fenomena ini adalah pertama, menjaga diri masing-masing untuk selalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi perbuatan maksiat, agar tidak mudah diganggu oleh bangsa jin. Ayat di atas, kemaksiatannya sangat besar, yaitu riba, memakan harta yang haram. Kondisi semacam ini sangat mudah untuk kerasukan jin. Maka, wiridan banyak juga baik, tapi alangkah lebih baik lagi menjaga diri ini dari perbuatan maksiat.

Kedua, jika terjadi kesurupan pada seseorang di depan kita, maka bacakanlah ayat-ayat ruqyah. Di antara bacaan ruqyah yang paling pendek adalah; ta’awwudz, al-Fatikhah, ayat kursi, al-Ikhlas, al-Falaq dan al-Nas. Ayat-ayat ini dibaca sekali dan dapat juga diulang beberapa kali. Membacanya dengan niat berlindung kepada Allah dari godaan syetan jin. Dibaca dengan niat mantap bahwa Allah akan menolongnya segera. Amin. Wallahu ‘Alam.

Pernah dimuat dalam Bangsaonline.com

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

About Imam Ghazali

mm
DR. KH. Imam Ghazali Said, MA adalah Pengasuh PESMA AN-NUR dan Dekan Fakultas ADAB UIN Sunan Ampel Surabaya

Check Also

Kedudukan Hadis Tentang Tidurnya Orang Puasa Ibadah

Share this... Pertanyaan: Assalamualaikum Ustadz, apakah hadis yang menyebutkan bahwa tidur pada waktu puasa itu ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *