Home / Artikel / HARI SANTRI NASIONAL, SEBUAH PENGHARGAAN PADA KONTRIBUSI PESANTREN

HARI SANTRI NASIONAL, SEBUAH PENGHARGAAN PADA KONTRIBUSI PESANTREN

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

Dimuat di Majalah Potensi Kominfo Jatim Edisi September 2015.

Kontribusi pesantren pada pengembangan kemajuan pendidikan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia tak lagi dapat terbantahkan. Pesantren bahkan dikenal sebagai lembaga pendidikan tertua yang lahir dari nilai-nilai kearifan lokal pribumi, sekaligus sebagai rumah kaderisasi tokoh intelektual nasional yang di hari kemudian berperan aktif merumuskan Pancasila dan menggagas berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Inisiatif untuk memberikan penghargaan atas kiprah kalangan pesantren muncul saat Presiden Joko Widodo mengunjungi Pondok Pesantren Babussalam Banjarejo, Pagelaran, Malang, Jawa Timur, Minggu (27/6) tahun lalu. Ketika itu, Presiden bersama Pengasuh Pesantren Babussalam, KH Thoriq Darwis Bin Ziyad sepakat mencanangkan Hari Santri Nasional (HSN) untuk disahkan sebagai hari bersejarah nasional. Selain bermakna penghargaan atas sumbangsih santri, usulan HSN juga menjadi penanda kebangkitan dan refleksi perjuangan tak kenal lelah yang telah ditunjukkan santri hingga hari ini.

Langkah serius penetapan HSN sebagai hari libur nasional ditunjukkan Pemerintah melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama (Kemenag). Sejumlah pertemuan pun digelar dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) untuk memberi kesempatan seluruh Ormas Islam, Pimpinan Pondok Pesantren dan Ulama menyampaikan usulan tanggal yang tepat disahkannya HSN.

Sejumlah Ormas menyampaikan aspirasi, KH Said Aqil Siraj sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengusulkan agar tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai HSN. Pada tanggal tersebut, dengan Komando Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari para ulama se-Jawa Madura dari berbagai Ormas Islam termasuk Sarikat Islam dan Muhammadiyah berkumpul di Surabaya kemudian merumuskan seruan perang suci atau dikenal dengan resolusi jihad.

Tanggal 22 Oktober, menurutnya sangat layak ditetapkan sebagai HSN karena dua minggu pasca ditetapkannya resolusi jihad tepatnya pada 10 November 1945 pecahlah pertempuran dahsyat melawan Netherland Indian Civil Administration (NICA) yang bersekongkol dengan tentara sekutu dipimpin oleh Inggris. “Tanggal 22 Oktober kami usulkan menjadi Hari Santri, karena memiliki kekhasan historis dalam konteks perjuangan Indonesia,” ungkap Said.

Berkat seruan jihad tersebut, ribuan santri, pemuda dan masyarakat umum dari Mojokerto, Lamongan, Tuban, Pasuruan, Jombang, Malang, Rembang, Cirebon dan sejumlah daerah lainnya bergabung dengan pasukan Tentara Keamananan Rakyat (TKR), Polisi Istimewa, Barisan Buruh, dan warga Kota Surabaya menyambut serangan umum pasukan Inggris.

Setelah mendapat restu dari Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, Bung Tomo panggilan akrab Soetomo sebagai pimpinan laskar BPR memimpin perlawanan pasukan Inggris. Kegigihan dan semangat pantang menyerah akhirnya membuahkan hasil ditandai dengan tewasnya Jenderal Mallaby selanjutnya pasukan NICA mundur perlahan. Peristiwa heroik pada 10 November di Surabaya itu, oleh pemerintah kini dijadikan sebagai Hari Pahlawan.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim, KH Abdussomad Buchori mengapresiasi langkah pemerintah untuk mengesahkan HSN sebagai salah satu hari libur nasional. Terlebih, usulan 22 Oktober yang identik dengan resolusi jihad hasil ijtihad Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari memang memberi pengaruh luar biasa pada pertempuran 10 November 1945.

“Saya rasa usulan itu sangat bagus. Penetapan Hari Santri Nasional tanggal 22 Oktober yang lekat dengan Resolusi Jihad untuk melawan penjajah. Sekaligus sebagai penghargaan terhadap perjuangan umat Islam khususnya kaum santri dan pesantren,” katanya saat diwawancarai Majalah Potensi, Selasa (1/9) di Kantor MUI Jatim, Jalan Dharmahusada Selatan No 5 Surabaya.

HSN, Abdussomad menuturkan hal yang paling kontras adalah semangat nasionalisme dan patriotisme. Keduanya ditunjukkan santri saat berperang melawan penjajah rela bertaruh harta, jiwa dan raga demi mempertahankan NKRI. Nilai positif tersebut hingga hari ini terus terpelihara, bertransformasi dalam konteks kekinian. Tak hanya menjadi ulama, santri juga hadir di setiap penjuru bidang dan profesi, menjadi entrepreneur, guru, dosen, pejabat pemerintahan, aktivis lingkungan hidup, petani dan sederet profesi lain yang konsisten memberi manfaat pada kemajuan bangsa.

Apabila nantinya HSN ditetapkan, Ia meminta tidak hanya diperingati secara seremonial namun nilai-nilai yang diajarkan pesantren seperti keikhlasan, kemandirian, kecerdasan spiritual dan kerja keras harus senantiasa diimplementasikan dalam kehidupan sehar-hari. Lebih dari itu, perlu ada tindaklanjut program yang lebih konkret, terstruktur, dan operasional. selanjutnya bekerja sama dengan masyarakat menjadi sebuah kebijakan strategis pemerintah.

Hal yang sama ditunjukkan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo saat menghadiri tahlil akbar memeringati haul Presiden pertama Indonesia, Soekarno dan pendiri Nahdlatul Ulama Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari di Kota Blitar, Rabu (29/7). Pakde Karwo sapaan Gubernur mendukung Presiden Joko Widodo menetapkan 22 Oktober sebagai HSN. “Tentang hari santri juga harus diputus, jangan mengambang. Bayangkan, jika ada hari santri, tentunya sangat bagus,” kata Pakde.

Menurutnya, jika pemerintah menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, tentu hal ini merupakan penghargaan tersendiri, terutama bagi para pejuang santri. Salah satu alasannya, pada 22 Oktober tersebut bertepatan dengan gerakan pesantren lewat Resolusi Jihad untuk berperang melawan penjajah Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia.

Setelah menerima masukan dari berbagai ormas keagaman dan sejumlah pihak maka selanjutnya Kemenag meminta masukan dari kesekretariatan negara dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Diharapkan tahun ini, HSN dapat segera ditetapkan dan dideklarasikan sebelum tanggal 22 Oktober 2015 oleh Presiden Joko Widodo sebagai salah satu hari bersejarah nasional.

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

About Lukman Hakim El Baqeer

mm
Luqman Hakim El Baqeer, Santri angkatan 2010, Jurusan Ilmu Komunikasi Fak. Dakwah UIN Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Wartawan KOMINFO JATIM ini sedang menempuh studi S2-nya di almamaternya. Email: budagponti@gmail.com

Check Also

Diaspora Kaum Yahudi

Share this...  Setelah persatuan dan kesatuan Kerajaan Israel warisan king David dan Solomon itu tak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *