Home / Artikel / Jangan Termakan Fitnah

Jangan Termakan Fitnah

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on WhatsappShare on Google+Pin on Pinterest
Ilustrasi : lintasmediaislami
Ilustrasi : lintasmediaislami

Bani Musthaliq memeluk Islam. Al-Haris bin Dhirar Al-Khuza’i, pemimpin suku itu, bersepakat dengan Rasulullah supaya diutus seseorang untuk mengambil zakat sukunya.

“Saya akan pulang ke kampung untuk mengajak orang-orang masuk Islam. Bila sudah sampai waktunya, kirimkanlah utusan untuk mengambil zakat kami,” tutur Al-Haris yang langsung diiyakan oleh Rasulullah.

Waktu yang disepakati tiba. Rasulullah mengutus Al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat ke Bani Musthaliq. Namun, teringat permusuhan di masa Jahiliah antara dirinya dengan Al-Haris, timbul rasa gentar di hati Al-Walid. Di tengah perjalanan, dia berbalik arah ke Madinah.

Untuk mengamankan diri, Al-Walid membuat laporan palsu. Kepada Rasulullah, Al-Walid bilang bahwa Al-Haris telah menolak menyerahkan zakat, bahkan hendak membunuh dirinya.

Rasulullah marah. Segera beliau mengutus beberapa sahabat lain untuk menemui Al-Haris.

Di saat bersamaan, Al-Haris sedang menanti-nanti utusan Rasulullah yang akan mengambil zakat. Tidak kunjung datang, Al-Haris merasa khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak berkenan di hati Rasulullah sehingga beliau tidak mengirimkan utusan.

Setelah musyawarah dengan tokoh-tokoh Bani Musthaliq, akhirnya Al-Haris berangkat ke Madinah bersama beberapa orang untuk menyerahkan zakat itu secara langsung kepada Rasulullah.

Di tengah perjalanan, praktis rombongan Al-Haris berpapasan dengan para utusan Rasulullah.

Al-Haris bertanya, “Kepada siapa kalian diutus?”

“Kami diutus oleh Rasulullah untuk bertemu denganmu,” jawab salah seorang utusan Rasulullah.

“Untuk apa?” Al-Haris melanjutkan.

Utusan Rasulullah pun menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah telah mengutus Al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat. Tetapi, dia mengatakan bahwa engkau tidak mau menyerahkan zakat, bahkan engkau hendak membunuhnya.”

“Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan benar. Aku tidak melihat dan tidak ada yang datang kepadaku,” tukas Al-Haris dengan segera.

Yang jelas, kedua rombongan lalu menuju Rasulullah. Namun, ketika Al-Haris sampai kepada Rasulullah, beliau langsung bertanya, “Apakah benar engkau menolak untuk menyerahkan zakat dan hendak membunuh utusanku?”

Sekali lagi, Al-Haris menegaskan, “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan benar. Aku tidak pernah berbuat demikian.”

Itulah sebab turun surah Al-Hujurat/49 ayat 6: “Wahai orang-orang beriman! Jika seseorang datang kepada kalian membawa berita, selidikilah berita itu dengan saksama.”

ANTARA GOSIP DAN FAKTA

Ada pelajaran berharga, terutama menyangkut tata pergaulan bermasyarakat. Allah hendak membimbing kita supaya selalu selektif menerima berita. Apalagi di zaman sekarang, antara gosip dan fakta sudah sangat sulit dibedakan.

Berita yang tampaknya nyata, ternyata hanya gosip belaka. Sebaliknya, sesuatu yang seolah hanya kabar burung, ternyata fakta.

Kemampuan memilah antara gosip dan fakta harus selalu dikedepankan. Jika tidak, orang beriman akan mudah sekali termakan fitnah dan adu domba. Makanya, setiap berita yang kita terima, harus melewati uji data. Yang manis jangan langsung ditelan. Yang pahit jangan seketika dimuntahkan.

“Meneliti keabsahan berita harus dilengkapi dengan memahami hakikat persoalan yang diberitakan. Alasannya, boleh jadi sebuah berita yang kita terima itu benar adanya. Namun, kalau tidak memahami hakikat persoalannya, pemahaman kita menjadi salah.”

Di era serba media seperti ini, gosip dan fakta berseliweran di mana-mana. Tidak jarang, malah menjurus kepada fitnah dan adu domba. Jejaring sosial menjadi sarana lumrah untuk mengunggah apa saja.

Akibat kedengkian, reputasi seseorang dihujat secara habis-habisan. Citra mulia seseorang seketika berubah menjadi samsak kebencian yang disertai umpatan. Pahlawan distigma sebagai pecundang. Sebaliknya, penjahat justru diagung-agungkan bagai pembela rakyat.

Belum lagi sesuatu yang dipoles seolah hiburan. Padahal, sejatinya hanya fitnah mematikan.

Dalam konteks itu, sebuah berita tidak cukup lagi hanya sekadar diteliti keabsahannya. Menurut Dr Umar bin Abdullah Al-Muqbil, meneliti keabsahan berita harus dilengkapi dengan memahami hakikat persoalan yang diberitakan. Alasannya, boleh jadi sebuah berita yang kita terima itu benar adanya. Namun, kalau tidak memahami hakikat persoalan sebenarnya, pemahaman kita menjadi salah.

Contohnya adalah kisah berikut.

Suatu malam, Rasulullah keluar dari masjid. Beliau berjalan berdua bersama seorang wanita. Tiba-tiba, dua lelaki Anshar lewat. Saat melihat Rasulullah, mereka mempercepat langkah, ingin memastikan dengan siapa gerangan Rasulullah berjalan di malam gelap gulita itu.

“Pelankan langkah kalian! Sesungguhnya dia adalah Shafiyah binti Huyai,” tutur Rasulullah.

Bayangkan, seandainya dua lelaki Anshar itu menyebarkan berita bahwa Rasulullah telah berduaan malam-malam dengan seorang wanita. Tentu berita itu benar. Tetapi, ketika tidak dipahami bahwa malam itu Rasulullah memang mengantarkan pulang istri beliau sendiri, pasti orang akan menyangka yang bukan-bukan.

Itulah yang dimaksud dengan memahami hakikat persoalan yang diberitakan.

Dalam keseharian, banyak sekali contoh serupa. Ketika adzan Ashar berkumandang, seorang kiai masuk rumahnya dan langsung tidur. Segera diberitakan bahwa ada kiai yang tidak shalat Ashar. Berita itu adalah benar.

Tetapi, sudahkah kita memahami alasannya? Ternyata, kiai bersangkutan baru saja pulang dari perjalanan. Dia sudah menjamak shalat Ashar dengan shalat Dhuhur sebelum dia sampai di rumah.

Contoh lain, ada guru agama yang makan dan minum siang hari saat Ramadhan. Setelah kita cek, berita itu memang benar. Kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Berarti itu bukan gosip.

Bagaimana hakikat persoalan yang sebenarnya? Ternyata guru agama itu sedang sakit. Dia juga hendak berangkat berobat ke sebuah rumah sakit di luar kota.

Itulah kenapa setiap berita yang kita terima, jangan langsung ditelan begitu saja. Tanpa sikap hati-hati dan waspada, bagaimana jadinya? Maksud hati hendak mengonsumsi berita dan menghindari fitnah, salah-salah justru sebaliknya. [*]

________

Simak kisah-kisah serupa di buku saya ALLAH PUN “TERTAWA” MELIHAT KITA.

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on WhatsappShare on Google+Pin on Pinterest

About M. Husnaini

mm
M. HUSNAINI : Alumni Pesma An-Nur Surabaya Angkatan 2003. Penulis dan Penyunting Sejumlah Buku

Check Also

Diaspora Kaum Yahudi

Share this...  Setelah persatuan dan kesatuan Kerajaan Israel warisan king David dan Solomon itu tak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *