Home / Artikel / Keteladanan Uqbah Bin Nafi’, ra

Keteladanan Uqbah Bin Nafi’, ra

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest
Di Depan Masjid Nafi' Bin Uqbah, ra
Di Depan Masjid Nafi’ Bin Uqbah, ra

Di antara para sahabat Nabi yang cukup fenomenal adalah Uqbah bin Nafi’, ra. (621-683 M). Ifriqiya (saat ini Afrika Utara: Maroko, Tunisia, Aljazair, dan Libya) adalah kawasan yang sangat luas yang pada abad VII M sebagian besar kawasan itu di bawah kekuasaan kekaisaran Romawi dapat dibebaskan oleh Uqbah bin Nafi’ ra. Tentu beliau sangat cerdas dalam strategi militer.

Kepiawaiannya dalam memilih kawasan untuk membangun kota Kairawan dengan menjadikan masjid sebagai titik pusat ibadah untuk mengasah spritualitas dan pusat birokrasi pemerintahan yang sekular dapat menjadi bukti kehebatan Uqbah bin Nafi’. Dari Kairawan ia membebaskan Zuwailah dan kota pelabuhan Tangier (Arab: Thonja, saat ini masuk wilayah Maroko). Sungguh ia seorang ahli strategi militer yang sepanjang sejarah hidupnya tidak pernah kalah. Walaupun demikian, ia tak pernah membayangkan bahwa jabatan panglima harus selalu berada di tangannya.

“Kesaktiannya” itu justru mendorong khalifah Muawiyah utk memecatnya dari jabatan panglima dan gubernur. Ini dilakukan oleh khalifah, agar ia tidak dikultuskan. Ketika info pemecatan dan penggantinya sampai ke telinga ia mempersiapkan penyerahan kekuasaannya pada penggantinya Abu al-Muhajir yang diangkat oleh khalifah. Uqbah rela menjadi prajurit biasa. Ketika ditanya, mengapa anda tidak membangkang? Dengan tegas ia menjawab: Amal dan tindakanku hanya untuk Allah. Aku yakin tindakan khalifah sudah tepat. Untuk itu, aku akan terus berjuang apapun jabatan yang diberikan kepadaku.

Ketika ia diangkat kembali sebagai panglima dan gubernur oleh khalifah Yazid bin Muawiyah, ia tidak mau berpisah dengan Abu Muhajir panglima dan gubernur yang ia gantikan. Ia menandaskan: kita harus berjuang bersama, untuk itu saya mohon anda menjadi wakilku. Sungguh perangai dan akhlak yang layak untuk diteladani.

Ketika ia dan 300 pasukannya dijebak oleh pasukan Romawi dalam suatu jamuan kehormatan; dan ia sadar bahwa dirinya sudah terkepung, ia tidak mau menyerah. Ia berkata kepada wakilnya Abu Muhajir; “berupayalah anda untuk dapat lolos dari kepungan ini. Uruslah kaum Muslim di Kairawan!, sebab aku rindu utk mati syahid”. “Tidak… tidak aku tidak akan membiarkan anda mati syahid sendirian. Aku dan seluruh pasukan juga ingin mati syahid. Kita tidak boleh khawatir 100 Uqbah dan 100 Abu Muhajir akan bemunculan di Kairawan dan di seluruh Afrika jika seluruh pasukan ini mati syahid di Zuwaulah ini” tegas Abu Muhajir. Saat itulah panglima dan wakilnya ini melesat menyerang musuh, yang kemudian diikuti secara serentak oleh 300 pasukannya dalam perang Zuwailah yang terkenal sangat dahsyat. Memang betul seluruh pasukan Muslim mati syahid termasuk Uqbah dan Abu Muhajir. Tapi korban di pihak musuh mencapai lebih dari 1000 pasukan.

Selang 5 tahun dari perang Zuwailah, prediksi Abu Muhajir menjadi kenyataan, generasi baru kaum Muslim menggantikan dan meneruskan perjuangan Uqbah dan Abu Muhajir. Akhirnya Ifriqiya berada di tangan kaum Muslim sampai hari ini. Semoga kisah historis ini dapat menjadi inspirasi bagi kita sebagai Muslim.

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

About Imam Ghazali

mm
DR. KH. Imam Ghazali Said, MA adalah Pengasuh PESMA AN-NUR dan Dekan Fakultas ADAB UIN Sunan Ampel Surabaya

Check Also

Diaspora Kaum Yahudi

Share this...  Setelah persatuan dan kesatuan Kerajaan Israel warisan king David dan Solomon itu tak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *