Home / Artikel / MEMAHAMI SIKAP NASIONALISME KH. HASYIM ASYARI

MEMAHAMI SIKAP NASIONALISME KH. HASYIM ASYARI

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

Oleh : KH. Imam Ghazali Said

Untuk mengenal dan memahami sikap nasionalisme KH. M Hasyim Asy’ari kita harus mengetahui terlebih dahulu rentang waktu beliau hidup dengan segala tantangan yang dihadapi. Beliau lahir di Desa Gedang kecamatan Keras sebelah utara kota Jombang Jatim pada hari selasa 24 Dzulqa’da 1287 H / 14 Februari 1871 M. dan beliau wafat pada tanggal 7 Ramadlan 1366 H / 25 Juli 1947 M. Itu berarti beliau hidup pada ujung abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20. Kita tahu pada masa tersebut Indonesia (masa itu populer dengan Jawa) tengah dijajah oleh Belanda yang sedang melakukan kebijakan yang populer dengan politik etis. Dalam arti sang penjajah menginginkan rakyat bumi putra (jajahan) untuk dididik sebagai calon pejabat birokrasi (amtenar) guna membantu menjalankan roda pemerintahan dan memperlancar suplai ekonomi yang dikeruk dari tanah jajahan ke Eropa.

Pada sisi lain tokoh-tokoh pergerakan yang melawan penjajah dengan kekuatan semangat dan ilmu-ilmu tradisional tidak mampu menembus kekuatan penjajah. Perang Diponegoro (1825-1830), perang Padri, pemberontakan petani di Banten (1888) dan pemberontakan-pemberontakan lain ternyata tidak mampu menggoyahkan penjajah. Dalam kondisi seperti ini M. Hasyim Asy’ari tumbuh dalam keluarga yang taat beragama yang secara ginialogis silsilahnya bersambung ke Maulana Ishaq ayah dari sunan Giri yang terkenal sebagai penguasa ulama pertama di Jawa. Ketekunan menimba ilmu pada ayahnya sendiri tidak mengendorkan minatnya untuk terus mencari ilmu berpindah dari satu pondok pesantren ke pondok pesantren lain; tercatat pesantren yang pernah berjasa membesarkan beliau dengan ilmu-ilmu adalah pesantren Wonokoyo (Probolinggo), pesantren Sono (Panji Siwalankerto Sidoarjo pimpinan kiai Ya’kub), pesantren Langitan (Tuban), pesantren Kademangan (Bangkalan Madura) dan lain-lain. Karena akhlaknya yang terpuji, ketekunan dan kecerdasannya memikat gurunya kiai Ya’kub untuk dinikahkan dengan putrinya Khadijah pada tahun 1892, tidak lama setelah menikah M. Hasyim Asy’ari bersama isteri dan mertuanya berangkat ke Hijaz dan menuntut ilmu pada para ulama yang populer waktu itu, diantaranya syekh Nawawi al-Bantani, syekh Khatib Minangkabawi, syekh Khatib Sambas, sayyid Abbas al-Maliki, syekh Mahfudz at-Tarmasi dan lain-lain.

Ketika berada di Hijaz ini, beliau tertarik untuk mendalami hadis, ilmu hadis, tasawuf dan tentu saja fiqh dan ushul fiqh. Ketika berada di Makkah itulah beliau dikaruniai seorang anak yang diberi nama Abdullah tetapi 7 hari dari kelahirannya anak ini wafat dan 40 hari kemudian sang ibu khadijah ikut menyusulnya. Beliau dirundung kesedihan karena musibah kematian anak pertama sekaligus isteri pertamanya. Akhirnya untuk menghapus kesedihan sang mertua KH. Ya’kub mengajak M. Hasyim Asy’ari untuk pulang ke Indonesia.

Hanya beberapa bulan berada di tanah air M. Hasyim Asy’ari berangkat lagi ke Hijaz (tanah suci Makkah-Madinah) ditemani adiknya yang bernama Anis Asy’ari, pada gelombang kedua beliau mukim di tanah suci ini beliau habiskan untuk menuntut ilmu pada syekh-syekh terkenal selama 7 tahun. Kesungguhannya menuntut ilmu di tanah suci menuai penilaian dari para guru dan sahabat-sahabatnya sebagai orang alim yang diprediksi akan menjadi tokoh Indonesia di masa yang akan datang.

Tidak lama setelah tiba di tanah air beliau kawin dengan putri bangsawan Ponorogo yang selanjutnya beliau mendirikan pondok pesantren pada tanggal 26 Rabiul Awal 1317 H, pesantren ini kemudian populer dengan nama pondok pesantren Tebuireng Jombang. Mengajar merupakan profesi yang ditekuninya sejak muda. Beliau sudah biasa membantu ayahnya mengajar di pondok Keras. Di Makkah, di samping belajar beliau juga mengajar. Setelah mendirikan ponpes Tebuireng semangat belajarnya terus berkobar. Ponpes Tebuireng yang awal berdirinya hanya mempunyai 28 santri kian tahun santri bertambah, sampai 10 tahun berjalan santrinya sudah mencapai ribuan. Dalam kehidupan sehari-hari kiai Hasyim Asy’ari dikenal sebagai orang yang sangat disiplin dengan waktu. Waktunya diatur sedemikian rupa sehingga tidak sedikitpun yang berlalu tanpa aktivitas yang berarti. Biasanya beliau mengajar sejam sebelum dan sejam sesudah shalat lima waktu. Ia biasa mengajar sampai larut malam. Pada bulan Ramadlan, ia mengajar kitab shahih Bukhari dan Muslim yang diikuti oleh santri dari berbagai pesantren untuk mendapat ijazahnya. Demikianlah kerja rutin kiai Hasyim Asy’ari. Seluruh waktunya diabdikan untuk agama dan ilmu.

Berjuang untuk kepentingan kaum muslimin

Untuk menghadapi tantangan besar bangsa yang ketika itu berada dalam cengkraman penjajah, sementara khalifah yang berkedudukan di Istanbul Turki sejak 2 abad terakhir tidak mampu melindungi negara-negara Islam baik negara-negara Arab, Afrika Utara, Asia Selatan maupun Asia Tenggara dari penjajah negara-negara Barat. Khalifah di Turki sebagai lambang kekuasaan kaum muslimin tidak mampu berbuat apapun yang bermanfaat bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Pada puncaknya sistem khilafah yang ketika itu disakralkan oleh kaum muslimin dihapus oleh Kamal Attatu’ (Mustofa Kamal) pada tahun 1924. Terhapusnya sistem khilafah meresahkan dan menghawatirkan para tokoh agama dan politik di hampir seluruh dunia Islam. Mereka mendukung semua gerakan yang intinya bermaksud menghidupkan kembali sistem khilafah yang sudah dihapus itu. Di Jawa sistem khilafah didukung oleh HOS Cokroaminoto, tokoh-tokoh Muhammadiyah dan Komite Hijaz yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari. Di India gerakan khilafah disponsori oleh DR. Muhammad Iqbal dan Maulana Abul A’la Maududi. Di Arab Saudi didukung oleh raja Abdul Aziz. Mereka ingin menegakkan kembali sistem khilafah yang sudah di hapus oleh Kamal Attatu’ itu.

Singkat kata, Kongres Khilafah internasional diadakan pada 1925 atas prakarsa raja Fuad I dari Mesir. Para pemimpin negara-negara di dunia berkumpul di Kairo untuk menegakkan kembali sistem khilafah yang dihapus itu sekaligus memilih khalifah. Ternyata, Komite Hijaz sebagai representasi dari komunitas muslim Jawa “ditilap” oleh jam’iyah Muhammadiyah dan Syarikat Islam. KH. Wahab Hasbullah (wakil Komite Hijaz) gagal untuk berangkat ke Kongres Khilafah di Kairo itu. Karena dua organisasi di atas menilai komite Hijaz tidak kredibel mewakili umat Islam Indonesia.

Apa hasil kongres khilafah pertama itu? Ternyata, khilafah gagal untuk ditegakkan kembali karena beberapa faktor. Pertama, utusan dari negara-negara Islam sudah tidak tertarik pada sistem khilafah yang dinilai tidak berbeda dengan kediktatoran dan kedhaliman. Mereka lebih tertarik untuk menegakkan syariat Islam dalam negara yang menganut idiologi nasionalisme dan demokrasi seperti yang ditawarkan penjajah Barat. Kedua, mereka menilai sudah lebih dari dua abad sistem khilafah tidak mampu melindungi kaum muslimin. Ketiga, raja Fuad I sebagai pemrakarsa kongres berambisi untuk memegang jabatan khalifah. Sementara di internal Mesir partai yang paling gigih menentang raja Fuad I adalah partai dusturiyin yang diantara pemikirnya adalah syekh Ali Abdurraziq dengan menulis buku yang berjudul “al-Islam wa Ushul al-Hukm” inti pemikiran Ali Abdurraziq dalam buku ini bahwa sistem khilafah tidak wajib ditegakkan. Kaum muslimin, – menurut beliau – bebas untuk memilih konsep politik baru yang menjamin tegaknya syariah guna melindungi seluruh kepentingan manusia secara adil. Keempat, rivalitas untuk jabatan khalifah antara Fuad I dari Mesir dan raja Abdul Aziz dari Saudi Arabia. Kongres tidak menghasilkan deklarasi politik apapun, mereka hanya mengemban misi untuk selalu berjuang mengusir penjajah dengan dasar idiologi nasionalisme masing-masing.

Walaupun demikian ambisi raja Abdul Aziz untuk “merebut jabatan khalifah” belum pudar. Ia merencanakan menyelenggarakan Kongres Khilafah II pada tahun 1926 di Hijaz.

NU berdiri

Komite Hijaz yang didirikan guna merespon Kongres Khilafah di Mesir yang gagal dan rencana Kongres Khilafah di Hijaz yang diperkirakan juga akan gagal, dan karena semangat untuk mempertahankan amaliah kaum muslimin Jawa dari serangan kaum tektualis wahabi dan kaum rasionalis liberal Muhammadiyah, maka pada tanggal 16 Rajab 1344 H. / 31 Januari 1926 M. Nahdlatul Ulama didirikan sebagai kelanjutan dari komite Hijaz.

Secara garis besar ada dua tantangan yang dihadapi Nahdlatul Ulama pada awal berdiri. Pertama, berupa terhapusnya sistem khilafah di Turki. Kedua, radikalisme kaum wahabi yang berhasil merebut kekuasaan dari Gubernur Syarif Huzein sebagai khalifah di Turki. Kaum wahabi memaksa kaum muslimin di Hijaz untuk berperilaku bebas mazhab, dan menghancurkan situs-situs sejarah Nabi dan kaum muslimin, karena alasan menjadi gudang syirik. Kuburan-kuburan suci di Mekkah seperti Ma’la ditembak habis hingga rata dengan tanah. Demikian juga perkuburan sahabat di Baqi ditembak hingga rata dengan tanah, bahkan kuburan Nabi saw juga direncanakan untuk di bumi hanguskan. Rencana terakhir ini sangat menyinggung perasaan kaum muslimin seluruh dunia termasuk komunitas muslim tradisional di Jawa.

Sejak awal Nahdlatul Ulama memiliki prinsip keagamaan yang memperhatikan transmisi intelektual (sanad). Oleh karena itu, ummat Islam tidak diperkenankan, meskipun mampu, untuk mengambil langsung dalil al-quran maupun hadis tanpa mengkonfirmasi terhadap pendapat ulama sebelumnya. Walaupun demikian, K.H. Hasyim Asy’ari sebagai tokoh pendiri NU dalam khutbah iftitah Muktamar XI NU di Cirebon sangat mengecam terhadap ulama yang fanatik mazhab. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari pertentangan internal antara kelompok pro mazhab versus anti mazhab.

Pada sisi lain, kecintaannya pada Indonesia yang akan menyongsong kemerdekaan dibuktikan dengan diskusi panjang dengan para ulama yang akhirkan menelorkan keputusan bahwa, tanah Jawa, walaupun saat itu dijajah Belanda, adalah termasuk negara Islam (daarul Islam) dengan konsekwensi kaum Muslimin Indonesia tidak boleh keluar dari negerinya sendiri. Mereka wajib berjuang mengusir penjajah. (lihat hasil Bahsul Masail no. 192).

Nasionalisme

Sedangkan sikap nasionalisme K.H. Hasyim Asy’ari dan NU dibuktikan dengan fatwa jihad beliau yang dikeluarkan satu bulan setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustua 1945. Waktu itu para pejuang muslim sudah menyepakati dibuangnya tujuh kata “Ketuhanan dan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluknya” dalam Piagam Jakarta. Ini berarti bahwa dalam pandangannya termasuk juga NU, Indonesia bukan negara Islam, tetapi negara nasional demokrasi yang menempatkan semua agama sama di hadapan negara. Walaupun demikian, ketika negara menghadapi pasukan sekutu termasuk Belanda di dalamnya yang ingin menjajah kembali Indonesia, K.H. Hasyim Asy’ari sebagai Rois Am Akbar NU mengeluarkan fatwa jihad yang sangat keras, yang ringkasannya sebagai berikut:

  1. Hoekeomnja memerangi orang kafir yang merintangi kepada kemerdekaan kita sekarang ini adalah fardoe ain bagi tiap2 orang Islam jang moengkin mekipoen bagi orang fakir.
  2. Hoekeomnja orang yang meninggal dalam peperangan melawan Nica serta komplot2nja adalaj mati syahid.
  3. Hoekeoemnja orang yang memetjahkan persatoean kita sekarang ini wajib diboenoeh

Fatwa inilah yang kemudian menjadi inspirasi Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober 1945.

Pemikiran nasionalisme K.H. Hasyim Asy’ari ini kemudian dilanjutkan oleh NU yang tidak bisa lepas dari Negara kesatuan ini dengan bukti:

  1. NU menjadi sponsor utama diterimanya Asas Tunggal Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pada tahun 1984
  2. Fatwa K.H. Ach. Shiddiq yang menyatakan bahwa, konstitusi negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 adalah bentuk final perjuangan kaum muslimin. Oleh karena itu, syari’at Islam harus ditegakkan dalam bingkai bernegara ini
  3. Komitmen NU bahwa NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 harus dipertahankan dengan cara “memerangi” semua bentuk seperatisme di berbagai daerah (lihat hasil Munas dan Konbes NU 2006 di Surabaya)
  4. NU menolak penerapan kembali sistem khilafah sebagaimana digagas dan dikampanyekan oleh Hizbut Tahrir pada Konferensi Khilafah tanggal 12 Agustus 2007 di Jakarta. Dalam pandangan NU, sistem ini hanya akan memicu perpecahan kaum muslimin yang telah berjuang menegakkan syari’at Islam sesuai dengan konstitusi masing-masing negara. NU mengakui bahwa sistem khilafah adalah bagian dari produk sejarah kaum muslimin, dan bisa digunakan kembali jika menjamin penegakan keadilan dan terealisirnya kepentingan dan hak-hak asasi manusia. Namun realita membuktikan sebaliknya. Sistem ini dalam rentang sejarahnya lebih banyak memproduk kediktatoran dan kedhaliman, sehingga lebih bijak bagi kaum muslimin untuk tidak menghidupkan kembali sistem ini, dan biarlah sistem ini menjadi catatan hitam lembaran sejarah kaum muslimin yang dapat diambil hikmahnya. Untuk itu, ke depan kita harus berjuang mempertahankan sistem yang telah menjadi kesepakatan para founding fathers kita dan terus berlanjut hingga saat ini, yaitu negara nasionalisme demokratis dengan konstitusi Pancasila dan UUD 1945 (lihat Keputusan Muktamar NU XXX th. 1999)

Metodologi Berpikir K.H. Hasyim Asy’ari

Apa yang tertuang dalam Qanun Asasi, secara eksplisit dapat tergambar bahwa pijakan pertama berpikir K.H. Hasyim Asy’ari adalah al-quran dan hadis, baru kemudian pendapat ulama, dan lalu dikonklusi menjadi pendapat pribadi.

K.H. Hasyim Asy’ari dikenal sebagai ahli hadis. Tidak heran jika Ia menentang tradisi-tradisi yang dianggap tidak punya dasar dalam sunnah. Hal terbukti dengan:

  1. Ketidaksukaan beliau pada peringatan maulid dan ritual bacaan barzanji. Karena menurutnya, tradisi-tradisi ini akan menjadi sarana kemunkaran dan kultus terhadap tokoh-tokoh dzurriyatul Rasul.
  2. Beliau juga tidak suka tradisi haul . Hal ini beliau buktikan dengan wasiatnya yang tidak berkenan untuk di-haul-i, karena beliau punya pandangan bahwa haul hanya akan menjadi sarana perdagangan untuk mencari dana. Walaupun demikian, beliau tidak melarang orang lain untuk melakukan haul
  3. Beliau sangat menentang prilaku nyeleneh dan jadab yang oleh orang awam dianggap sebagai bagian derajat kewalian. Hal ini beliau jelaskan dalam kitab karyanya “Ashrathus Sha’ah

Sedangkan mengenai tharekat diakui oleh beliau bahwa tharekat memang ada yang menyimpang dari syari’ah. Dari sini kemudian lahir di kalangan NU istilah tharekat mu’tabrah (tharekat yang diakui keabsahannya) dan tharekat ghairu mu’tabarah (tharekat yang tidak diakui keabsahannya). Dalam pandangannya, tharekat mu’tabrah adalah tahrekat yang sanadnya bersambung pada Rasulullah SAW saw dan ajarannya tidak bertentangan dengan al-Quran dan Hadis. Sedangkan tharekat ghairu mu’tabarah adalah tharekat yang sanadnya tidak bersambung pada Rasulullah SAW, atau ajarannya bertentangan dengan al-Quran dan Hadis.

K.H. Hasyim Asy’ari juga mengakui eksistensi syi’ah, terutama Syi’ah Zaidiyah dan Imamiyah, tetapi beliau tidak memperbolehkan untuk mengikuti ajarannya.            

Pola pikir K.H. Hasyim Asy’ari ini kemudian menjadi daya tarik tokoh-tokoh Muhammadiyah untuk berguru kepadanya. Diantaranya K.H. Basyir (ayah K.H. Azhar Basyir, seorang tokoh Muhammadiyah) dari Yogyakarta, dan K.H. Abdurrahman Syamsuri dari Paciran. Keduanya kemudian menjadi tokoh utama Muhammadiyah pada masanya.

Kesimpulan  

Dari uraian diatas dapat diketahui bagaimana sosok K.H. Hasyim Asy’ari itu sebenarnya. Pertama, dalam hal nasionalisme, beliau memiliki pandangan bahwa Indonesia bukan negara Islam, tetapi negara nasional demokrasi yang menempatkan semua agama sama di hadapan negara. Kedua, dalam hal metodologi berpikir, beliau berpijak langsung pada al-Quran dan Hadis, baru kemudian pendapat ulama, dan lalu dikonklusi menjadi pendapat pribadi. Ketiga, dalam sikap keagamaan, beliau secara pribadi sangat puritan. Hal ini bisa dilihat dari ketidaksukaan beliau pada ritual-ritual yang tidak ada dasarnya dalam sunnah Nabi, seperti peringatan maulid, pembacaan barzanji dan tradisi haul. Walaupun demikian, beliau tidak menyuruh orang lain untuk berbuat puritan seperti dirinya. Wallahu a’lamu bis shawab.

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

About PESMA AN-NUR

mm

Check Also

Diaspora Kaum Yahudi

Share this...  Setelah persatuan dan kesatuan Kerajaan Israel warisan king David dan Solomon itu tak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *