Home / Artikel / Menghayati Makna Ibadah

Menghayati Makna Ibadah

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest
ilustrasi dari situs ummi-online.com
(ilustrasi dari situs ummi-online.com)

“Tahukah kamu,” firman Allah mengawali surah Al-Maun, “orang yang mendustakan agama?” Dalam urutan ayat selanjutnya, Allah menegaskan, “…maka celakalah orang-orang yang shalat.”

Masya Allah. Surah Al-Maun di atas, secara keseluruhan, sungguh menjotos kesadaran kita. Bahkan, KH Ahmad Dahlan, ulama besar pendiri Muhammadiyah, sangat terinspirasi oleh surah ke-107 ini. Tidak mau tergolong pendusta agama, Kiai Dahlan kemudian mendirikan berbagai amal usaha di bidang kesehatan, pendidikan, dan sosial. Melalui Muhammadiyah.

Jika kita renungkan, segala rupa ibadah dalam Islam, muaranya adalah pembentukan akhlak. Jadi, idealnya, semakin baik ibadah seseorang, semakin baik pula akhlaknya. Shalat, misalnya, ditegaskan dalam Al-Quran, dapat mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar.

Apa itu perbuatan keji? Yaitu segala macam perbuatan yang membuat jijik siapa pun yang mengetahuinya. Misalnya, berzina, berkata jorok, membuka aurat, merasani sesama, dan semacamnya. Orang yang shalat mestinya pantang melakukan perbuatan-perbuatan menjijikkan semacam itu.

Juga mustahil orang yang shalat melakukan kejahatan seperti menipu, mencuri, apalagi korupsi, dan serupanya. Semua itu jelas perbuatan mungkar. Yang dimaksud mungkar adalah segala perbuatan yang dipandang buruk oleh semua manusia. Mencuri, misalnya, tidak ada orang yang menganggap sebagai perbuatan mulia.

Namun, kembali ke fokus masalah, rupanya tidak semua orang yang shalat terbebas dari perbuatan keji dan mungkar itu. Bukan hanya shalat, sebenarnya. Sebut saja puasa, dititahkan agar manusia, antara lain, punya jiwa empati dan belas kasihan. Namun, betapa banyak orang yang berpuasa namun masih bersikap kasar dan arogan terhadap sesama.

Ini menunjukkan bahwa intensitas ibadah tidak selalu menghasilkan akhlak yang mulia. Apakah lantas kita berhenti menjalankan ibadah? Tentu saja tidak. Ibadah, dengan demikian, tidak cukup dijalankan sebagaimana rutinitas tugas harian. Untuk menghasilkan mutu ibadah yang bagus, apa pun jenis ibadahnya, dibutuhkan penghayatan mendalam. Tidak cukup dikerjakan dengan anggota badan, tetapi harus pula diikuti dengan gerak hati.

Dalam konteks inilah firman Allah dalam surah Al-Maun tersebut niscaya kita camkan. Jangan-jangan kita telah mengaku sebagai orang beragama, lebih-lebih merasa sebagai yang paling taat agama, ternyata kita tidak lebih hanya pendusta-pendusta agama.

Berulang kali naik haji, namun tetap tinggi hati. Rajin membayar zakat, namun tetap tega melihat derita kaum melarat. Fasih bersyahadat, namun masih jua menghamba harta dan pangkat.

Yang banyak, mengutuk korupsi sambil terus aktif mencuri. Ya, mencuri tidak harus mengambil sejumlah barang atau segepok uang. Bahkan, korupsi juga tidak harus menilap harta negara miliaran atau triliunan rupiah.

Pegawai yang telat-telat masuk kantor, itu korupsi. Pendidik yang abai terhadap anak didik dan hanya sibuk mengejar tunjangan, juga korupsi. Anak didik yang tidak serius belajar, itu korupsi. Pemimpin yang mementingkan egonya sendiri, jelas biangnya korupsi. Silakan lanjutkan dengan contoh-contoh serupa. Yang jelas, semua tadi adalah wujud perilaku korupsi, karena mencuri waktu dan juga mengabaikan kepercayaan yang diberikan orang lain.

Jadi, sekali lagi, segala macam ritual ibadah benar-benar butuh penghayatan mendalam. Jangan sampai, sungguh jangan sampai, kita merasa sudah capek menjalankan aneka ritual ibadah, kita merasa sudah taat perintah agama, tetapi sama sekali ibadah-ibadah itu tidak mampu mengubah perilaku buruk kita.

Lebih celaka lagi sekiranya sepanjang hidup kita merasa telah menabung pahala, namun ternyata kelak di hari akhir, seluruh ibadah yang kita usahakan tidak punya nilai sama sekali di mata Allah. Na’udzu billah.

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

About M. Husnaini

mm
M. HUSNAINI : Alumni Pesma An-Nur Surabaya Angkatan 2003. Penulis dan Penyunting Sejumlah Buku

Check Also

Diaspora Kaum Yahudi

Share this...  Setelah persatuan dan kesatuan Kerajaan Israel warisan king David dan Solomon itu tak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *