Home / Artikel / MENJAGA SEMANGAT JAWATIMURAN, MELESTARIKAN INDIGENOUS CULTURE

MENJAGA SEMANGAT JAWATIMURAN, MELESTARIKAN INDIGENOUS CULTURE

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

 

Wawancara bersama Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair), Bapak Aribowo. Dimuat di Majalah Potensi Kominfo Jatim Edisi Oktober

Provinsi Jawa Timur telah genap berumur 70 tahun pada 12 Oktober 2015 lalu. Diumur yang cukup matang ini, sejumlah harapan datang dari berbagai kalangan tak terkecuali Gubernur Jawa Timur, Soekarwo. Dalam berbagai kesempatan, Pakde Karwo sapaan akrab Gubernur menyampaikan setiap individu yang menjadi bagian masyarakat Jawa Timur harus senantiasa menjaga semangat jawatimuran.

Semangat Jawatimuran yang dimaksud Pakde Karwo oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair), Aribowo dijelaskan sebagai kebanggaan rakyat terhadap budaya lokal murni di masing-masing daerah atau dalam istilah sosiologi disebut dengan indigenous culture. Sebuah budaya yang bersumber dari kearifan lokal sesuai dengan nilai dan norma yang berkembang sejak jaman dahulu.

Kebudayaan Jawa Timur, sedikitnya terdiri dari sepuluh wilayah yakni Mataraman, Jawa Panaragan, Arek, Samin, Tengger, Osing, Pandalungan, Madura Pulau, Madura Bawean dan Madura Kangean. Uniknya hal ini terjadi dalam satu provinsi yang sama. Tentu kekayaan budaya semacam ini menjadi peluang sekaligus potensi untuk memajukan Jawa Timur bahkan Indonesia apabila terus dikembangkan dan dilestarikan.

Setiap wilayah kebudayaan di Jawa Timur tersebut memiliki ciri khas tersendiri, corak budaya dan kearifan lokal yang berbeda. Hal tersebut disebabkan oleh sejumlah faktor, misalnya terkait dengan berbagai macam mode produksi seperti masyarakat pertanian, perkebunan dan nelayan. “Faktor itu melahirkan karakteristik yang berbeda-beda. Dari sisi kesenian, bahasa, pekerjaan termasuk pola keyakinan yang sangat beragam,” terang Ari ditemui Majalah Potensi, Rabu (23/9) di ruangannya.

Meski berbeda, menariknya hampir di 38 Kabupaten/kota terdapat pola kesenian yang sama. Contoh riil adalah kesenian reog, kesenian yang terkenal seantero dunia ini ternyata tidak hanya ada di Ponorogo namun juga muncul di Surabaya, Banyuwangi, Mojokerto, Madiun dan beberapa daerah lainnya. “Hal ini menunjukkan pluralisme budaya dengan pola pembangunan selama ini membentuk mozaik dan identitas kebudayaan yang unik di Jawa Timur ,” tambah Ari yang juga anggota pleno Dewan Kesenian Jawa Timur.

Lebih lanjut, Ari menuturkan secara umum masyarakat Jawa Timur dikenal sebagai pribadi yang terbuka, spontan, egaliter dan tegas. Karakter tersebut tak terlepas dari latarbelakang sejarah kerajaan di Jawa Timur yang memiliki ibu kota lebih banyak berada di wilayah pesisir. Kota Surabaya misalnya pernah menjadi pelabuhan penting sejak jaman kerajaan Kahuripan, Janggala, Kediri, Singasari hingga Majapahit.

Menurut Ari, karakter khas masyarakat pesisir disebabkan oleh terjadinya mobilitas cukup tinggi, arus barang dan jasa begitu cepat dan fluktuatif akibat seringnya interaksi dengan bangsa luar. Sehingga mengubah sistem sosiologis masyarakat menjadi lebih mudah beradaptasi berbagai macam perubahan. “Secara kultural lebih terbuka dan mudah mengikuti perubahan. Masyarakatnya tidak membutuhkan waktu yang panjang untuk merespon berbagai macam peruabahan,” jelasnya.

Berbeda dengan masyarakat pedalaman seperti daerah Kabupaten Madiun, Ngawi, Nganjuk dan daerah Mataraman lainnya. Mereka memiliki karakter simbolis, kontemplatif dan membutuhkan waktu yang panjang untuk merespon perubahan. Masyarakat di kawasan ini dalam menyampaikan pesan yang lebih sering secara simbolik sementara masyarakat pesisir lebih ekspresif.

Namun sejak Pemerintah memberlakukan revolusi hijau tahun 70-an di Jawa Timur, maka infrastruktur dan teknologi pertanian modern mulai menyebar merata di seluruh kabupaten/kota. Revolusi Hijau dimaksudkan untuk meningkatkan produksi pangan agar lebih meningkat. Fenomena ini selanjutnya juga menstimulan mobilitas barang dan jasa yang cukup tinggi.

“Masyarakat pedalaman mulai terbuka, akibatnya perdagangan bergerak begitu cepat. Kemudian semakin mengubah masyarakat menjadi relatif menjadi lebih rasional dan responsif. Semula simbolik menjadi ekspersif, hal ini terjadi merata hampir di seluruh Jawa Timur,” imbuhnya.

Selain itu, di tengah arus globalisasi yang akhir-akhir ini semakin menguat pengaruhnya terutama berimbas pada dekadensi minat masyarakat terhadap budaya lokal turut membuat banyak kalangan prihatin. Generasi muda lebih tertarik pada budaya dan tradisi dari negara lain seperti K-Pop dibanding melestarikan kesenian Jaran Bodag atau ludruk.

Menanggapi hal itu, Ari berpendapat globalisasi adalah keniscayaan, sebuah fenomena yang tidak bisa dihentikan oleh negara manapun. Globaliasasi yang menjelma menjadi modernisasi, menurut Ari, tetap tidak bisa menghilangkan eksistensi tradisionalisme. Bahkan tradisionalisme melakukan revitalisasi lebih kuat saat modernisme semakin gencar melakukan ekspansi.

“Kesenian modern itu sangat rentan runtuh dan tidak akan bertahan lama. Saat ini budaya Korea yang kuat, lima tahun mendatang akan berganti dengan budaya Barat. Hal ini terbukti dan banyak terjadi, jadi tidak hanya kesenian tradisional yang jatuh bangun, kesenian modern malah sulit bertahan,” terangnya.

Selama ini, pemerintah pusat hingga pemerintah daerah di Kabupaten/kota, ditambahkannya juga telah berupaya mendukung pengembangan kesenian tradisional dengan menyediakan anggaran hingga triliunan rupiah. Justru kesenian tradisional memiliki dukungan dan basis terkuat dari masyarakat Jawa Timur sendiri. Bahkan ia menjamin hingga ratusan tahun yang akan datang kesenian tradisional akan tetap eksis mewarnai perkembangan jaman.

Terakhir, ia berharap memasuki usia 70 tahun, Jawa Timur menjadi provinsi yang semakin berkembang di segala bidang tak hanya budaya, pada pertumbuhan ekonomi tetap lebih tinggi dari rata-rata nasional, harga kebutuhan pokok relatif stabil, terbangun infrasturktur yang baik, fasilitas dan akses pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi mudah terjangkau serta menjadi pusat pendidikan agama terutama berbasis pesantren.

Rahasia sukses pemerintah Jawa Timur melakukan pembangunan selama ini, Ari mengungkapkan terletak pada adanya relasi dan keserasian antara pemerintah dan masyarakat. Artinya tidak terjadi jarak yang jauh, pemerintah lebih mudah menyerap aspirasi masyarakat untuk selanjutnya dijawab dengan melaksanakan program kerja sesuai kebutuhan masyarakat.

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

About Lukman Hakim El Baqeer

mm
Luqman Hakim El Baqeer, Santri angkatan 2010, Jurusan Ilmu Komunikasi Fak. Dakwah UIN Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Wartawan KOMINFO JATIM ini sedang menempuh studi S2-nya di almamaternya. Email: budagponti@gmail.com

Check Also

Diaspora Kaum Yahudi

Share this...  Setelah persatuan dan kesatuan Kerajaan Israel warisan king David dan Solomon itu tak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *