Home / Artikel / Persamaan Dan Perbedaan Sunni-Syi’i; Tafsiran Kyai Imam Ghazali atas Qs. al-Baqarah: 187

Persamaan Dan Perbedaan Sunni-Syi’i; Tafsiran Kyai Imam Ghazali atas Qs. al-Baqarah: 187

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on WhatsappShare on Google+Pin on Pinterest
KH. Imam Ghazali Said: Pengasuh PESMA An-Nur Surabaya

Pada pertengahan bulan Juli 2017 lalu, pengasuh Pesma An-Nur Wonocolo Surabaya, Kyai Imam Ghazali Said berkesempatan memberikan pencerahan keilmuan kepada jama’ah shalat dhuhur masjid Ulul Albab UINSA Surabaya, memulai dengan melontarkan sebuah pernyataan, “al-Qur’an menurut mayoritas umat Islam sudah disepakati sebagai sumber ajaran Islam, namun sunnah Nabi Muhammad Saw. masih menjadi perdebatan”.

Kyai Imam Ghazali menerangkan, umat Islam saat ini, dapat dipolarisasi menjadi dua kelompok besar, golongan ahli sunnah wal jama’ah atau biasa disebut Sunni dan golongan Syi’ah juga sering dinamai Syi’i. Dua golongan besar ini, berselisih paham menetapkan hadist shohih sehingga dalam kesimpulan akhirnya terjadi perbedaan pandangan dalam menetapkan hukum suatu peristiwa. Namun demikian, dalam sebagian hal, ada beberapa kesamaan. Dan kita sebagaimana ilmuan, akademisi harus mengakui dan menerima persamaan dan perbedaan tersebut, sehingga tidak gampang saling salah menyalahkan.

Untuk membuktikan hal ini, Kyai Imam Ghazali, memberikan salah satu contoh dalam memahami Qs. al-Baqarah: 187 yang artinya sebagai berikut;

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah Pakaian bagimu, dan kamupun adalah Pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa”.

Menurutnya, ayat ini sebenarnya lebih tepat dijelaskan pada bulan Ramadhan kemarin, namun karena ini adalah ilmu, maka pada bulan apa saja bisa diuraikan.

Dalam Tafsir al-Qur’anul Adhim Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa terdapat beberapa riwayat yang menerangkan sebab turunnya ayat ini. pertama, bahwa ayat ini merupakan rukhsah (keringanan) dari Allah swt. bagi kaum muslimin serta penghapusan hukum yang sebelumnya berlaku pada permulaan Islam. Pada saat itu, jika seorang dari kaum muslimin berbuka puasa, maka dihalalkan baginya makan, minum, dan berhubungan badan sampai shalat isya’ atau ia tidur sebelum itu. Jika ia sudah tidur atau shalat Isya’, maka diharamkan baginya makan, minum dan berhubungan badan sarnpai malam berikutnya. Karena itu, mereka pun merasa sangat berat.

Kedua, diriwayatkan oleh al-Bukhari, diperoleh melalui jalur Abu Ishak, katanya, “Aku pernah mendengar al-Bara’ menceritakan: Ketika turun perintah puasa Ramadhan, para sahabat tidak mencampuri isteri mereka selama satu bulan Ramadhan penuh. Dan ada beberapa orang yang tidak sanggup menahan nafsu mereka, lalu Allah menurunkan firman-Nya: ‘alimallaaHu annakum kuntum takhtaanuuna anfusakum fataaba ‘alaikum wa ‘afaa ‘ankum (Allah mengetahui bahwasannya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampunimu dan memberi maaf kepadamu)”.

Ketiga, diriwayatkan oleh Ishak dari al-Bar bin Azib, bahwa pada waktu itu para sahabat Nabi, jika seorang berpuasa lalu ia tidur sebelum berbuka, maka ia tidak makan sampai malam berikutnya. Qais bin Sharimah al-Anshar pernah dalam keadaan puasa bekerja seharian di ladang miliknya, dan ketika waktu buka tiba, ia menemui isterinya dan bertanya, “Apakah engkau punya makanan?” Isterinya menjawab, “Tidak, tetapi aku akan pergi mencarikan makanan untukmu.” Maka Qais terkantuk sehingga ia tertidur. Ketika isterinya datang, dan melihat suaminya tidur, ia pun berkata, “Rugilah engkau mengapa engkau tidur?” Pada waktu tengah hari Qais pun jatuh pingsan. Lalu hal itu diceritakan kepada Rasulullah maka turunlah ayat tersebut. Dan karenanya orang-orang pun merasa senang sekali.

Kyai Imam Ghazali kemudian menjelaskan penggalan ayat di atas, satu demi satu;

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu”.

Ayat ini menjelaskan bahwa pada awal-awal diwajibkannya puasa, ada ketentuan yang menyebutkan bahwa setelah sholat isya’ ataupun setelah tidur, tidak diperbolehkan lagi makan, minum dan melakukan hubungan suami isteri sampai datangnya malam berikutnya. Riwayat lain menjelaskan bahwa larangan berhubungan badan itu berlaku selama sebulan ramadhan penuh. Ketentuan ini dirasa sangat memberatkan bagi kaum muslimin, sehingga mereka merasa gelisah, tidak kuasa untuk menahan gejolak nafsunya. Sehingga pada suatu hari, muncullah suatu peristiwa yang menimpa Qais bin Sharimah al-Anshar sebagaimana yang dijelaskan dalam asbabun nuzul di atas, lalu dilaporkan kejadian tersebut kepada Rasulullah Saw., maka turunlah ayat ini yang menjelaskan bahwa pada malam hari diperbolehkan melakukan hubungan suami isteri dengan catatan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. dan Allah Swt. mengampuni kasus-kasus lain yang telah terlanjur terjadi.

Menurut Kyai Imam Ghazali, orang arab berbuka puasa tidak seperti kita orang Indonesia yang membatalkan puasa dengan seteguk air minum, manis-manisan dan makanan lainnya. Orang Arab, bagi yang sudah menikah, justru membatalkan puasanya dengan melakukan hubungan suami isteri. Ketika waktunya tiba untuk berbuka, maka mereka langsung melakukan hubungan suami isteri. Barangkali besarnya nafsu orang Arab tidak sama dengan nafsu orang non Arab, sehingga dalam ayat ini al-Qur’an menjelaskannya secara terang benderang. Kyai Imam Ghazali menambahkan, bahwa para da’i dan penceramah, ketika menjelaskan ayat tentang puasa, mereka luput menyinggung masalah ini.

Selanjutnya,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”.

Ayat ini, bagi kita orang Indonesia, benar-benar diamalkan ketika makan sahur, dimana sepuluh sampai lima belas menit sebelum waktu imsyak datang, kita telah diperingatkan dengan pengeras suara oleh petugas di tiap-tiap masjid dan musholla untuk berhenti makan dan minum. Ini artinya, ketika waktu sahur, kita benar-benar memberi tenggang waktu agar tidak benar-benar sahur pada waktunya. Kita benar-benar menahan makan dan minum sepuluh sampai lima belas menit sebelum waktu puasa akan benar-benar dimulai.  Sementara di Arab Saudi sendiri, sepengetahuan, Kyai Imam Ghazali, orang-orang disana, masih makan dan minum ketika adzan subuh dikumandangkan.

Penggalan ayat berikutnya;

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam”.

Ayat ini mengandung arti bahwa puasa itu harus dilakukan sampai datangnya malam, bukan sampai ghurub, terbenamnya matahari. Frase “sampai datangnya malam” memberi pengertian “sampai datang waktu gelapnya malam”. Kalau diperhatikan, waktu gelapnya malam itu sekitar menjelang masuknya waktu isya’. Ayat ini hanya dipraktekkan oleh orang-orang Syi’ah yang tinggal di Irak dan Iran. Kyai Imam Ghazali menginformasikan, jika kita sempat jalan-jalan ke Irak dan Iran pada bulan ramadhan, kita akan melihat pemandangan yang berbeda dengan kita di Indonesia. Mereka tidak membatalkan puasa pada saat adzan magrib dikumandangkan tapi mereka menunggu sampai waktu gelap malam, yaitu waktu adzan isya’ dikumandangkan. Mereka melakukan ini, sekali lagi, untuk mengamalkan bunyi ayat di atas.

Golongan ahli Sunnah membatalkan puasa ketika adanya tanda-tanda gurub, terbenamnya matahari. Hal ini menurut Kyai Imam Ghazali didasarkan pada sebuh hadist Nabi Muhammad Saw. yang menganjurkan umat Islam untuk mempercepat berbuka puasa. Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Adapun Orang Syi’ah tidak mengakui hadist yang diriwayatkan oleh Ahli Sunnah termasuk riwayat Imam Bukhari. Mereka hanya mendasarkan pada hadist-hadist yang diriwayatkan oleh ulama-ulama Syi’ah yang terdapat dalam kitab Ushul Kafi dan Biharul Anwar.

Dari kedua potongan ayat tersebut di atas, golongan Syi’i memahami bahwa harus ada jarak waktu imsak atau menahan ketika hendak berbuka dan sahur, dan kedua hal itu dipraktekkan oleh golongan Syi’i. Sementara golongan Sunni hanya mempraktekkan imsak ketika sahur saja, sedangkan ketika hendak berbuka, golongan sunni tidak mempraktekkan imsak karena langsung berbuka pada saat gurub atau adzan maghrib dikumandangkan. Dari sini, kita dapat melihat persamaan kedua golongan ini hanya pada imsak waktu sahur sedangkan imsak pada waktu berbuka ada perbedaan pemahaman.

Potongan ayat berikutnya;

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا

“(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya”.

Ayat ini hendak menjelaskan bahwa jika kaum muslimin beri’tikaf (terutama pada malam 10 hari terakhir bulan ramadhan), maka di sela-sela i’tikaf tidak boleh melakukan hubungan suami isteri. Jika hal itu dilakukan, maka batallah i’tikaf yang dilakukannya. Misalnya ketika kita memulai i’tikaf jam 01.00 wib, lalu jam 03.00 wib keluar dari masjid untuk menunaikan hajat, maka jika waktu keluar itu, kita melakukan hubungan suami isteri, maka i’tikaf yang kita lakukan, hukumnya tidak sah alias batal. Jadi agar i’tikaf kita tidak batal, maka jangan mendekati isteri-isteri kita pada 10 hari malam terakhir bulan ramadhan agar tidak tergoda untuk melakukan hubungan suami isteri.

Potongan ayat terakhir,

كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa”.

Dalam ayat ini Allah Swt. menginformasikan ayat-ayat-Nya tentang peraturan puasa ini, tidak hanya kepada umat Islam, tapi kepada manusia secara keseluruhan. Itu artinya apa?. Bahwa ayat ini hendak menjelaskan, puasa itu tidak hanya diperintahkan dan dilakukan oleh kalangan muslim, tapi dilakukan oleh seluruh umat manusia, lebih-lebih orang-orang sebelum kita sebagaimana yang dijelaskan dalam Qs. al-Baqarah: 183, dengan tujuan agar orang-orang yang berpuasa itu menjadi orang yang bertaqwa. Wallau a’lam.

Surabaya, 19 Juli 2017

 

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on WhatsappShare on Google+Pin on Pinterest

About Syukri Abu Bakar

mm
Adalah alumni angkatan 1994 (angkatan Pertama) Pesantren Mahasiswa An-Nur Wonocolo Surabaya Asal Bima - Nusa Tenggara Barat. Aktivitasnya sebagai Dosen UIN Mataram diperbantukan (DPK) di STIT Sunan Giri Bima, sekarang sedang menyelesaikan studi S3 di UIN Sunan Ampel Surabaya.

Check Also

Diaspora Kaum Yahudi

Share this...  Setelah persatuan dan kesatuan Kerajaan Israel warisan king David dan Solomon itu tak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *