Home / Artikel / Reuni Akbar dan Launching Buku; (1) Kilas Balik Kehidupan Santri Pertama Pesma An-Nur

Reuni Akbar dan Launching Buku; (1) Kilas Balik Kehidupan Santri Pertama Pesma An-Nur

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

 

Oleh : Dr. Suykri Abu Bakar*

Dr. Syukri Abu Bakar, Alumni Pesma An-Nur Angkatan Pertama (1994)

 

Reuni Alumni Pesma An-Nur ini merupakan reuni untuk pertama kalinya sejak diresmikan pada tahun 1994 oleh mantan Presiden RI almarhum KH. Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur. Reuni Akbar ini dirangkai dengan Launching buku karya Dr. KH. Imam Ghazali Said, MA selaku pengasuh Pesma An-Nur.

Pada reuni kali ini, saya terkaget-kaget karena didapuk untuk menyampaikan kesan dan pesan mewakili alumni lainnya yang jumlahnya barangkali sudah mencapai ratusan bahkan ribuan orang. Mungkin karena saya dianggap santri angkatan pertama dan yang paling tua yang hadir, sehingga dipercaya untuk mewakili teman-teman alumni yang lain.

Dalam sambutan itu, pertama-tama saya menyampaikan banyak terima kasih kepada pengasuh yang telah dengan tulus ikhlas membimbing, mendo’akan dan menghantarkan kami menjadi alumni yang bermanfaat bagi masyarakat lingkungan kami, sebagaimana yang sering didengung-dengungkan oleh pengasuh. Saya juga tidak lupa, mewakili kawan-kawan alumni yang lain, menyampaikan permohonan maaf yang sebanyak-banyaknya bila ada khilaf selama menimba ilmu di Pesma An-Nur.

Mengingat kembali masa-masa santri dulu, banyak cerita suka dan duka yang bisa diungkap. Kami santri pertama benar-benar digembleng oleh pengasuh dari segi penguasaan disiplin ilmu keagamaan dan keistiqamahan dalam menjalankan sholat berjama’ah, terutama jama’ah subuh.

Dari segi keilmuan, kami yang berjumlah kurang lebih 18 orang itu dibagi menjadi dua kelas. Ada mustawa awal dan ada mustawa tsani. Ditahun berikutnya, ketika santri semakin banyak, maka ditambah dengan mustawa tsalis. Pembagian Mustawa atau kelas ini didasarkan atas penguasaan terhadap teks Arab dan Inggris. Mustawa awal biasanya jumlahnya terbatas, hanya dihuni oleh lima atau enam orang saja sementara selebihnya menjadi penghuni mustawa tsani dan tsalis.

Pada mustawa awal, saya termasuk didalamnya, diajarkan langsung bagaimana memahami kitab-kitab karangan ulama klasik dan ulama kontemporer, baik yang berbahasa arab maupun berbahasa Inggris, seperti kitab Bidayatul Mujtahid, al-Muwafakat fi Ushulis Syari’ah, Al-Raddu Aladdahriyyin, Tafsir Aisyah Binti Syathi’, Tafsir Min Dhilalil Qur’an karangan Sayyid Qutb, Adabud Dunya Wad Din, al-Arabiyyah lin Nasyiin, dan buku-buku yang berbahasa Inggris lainnya. Sementara mustawa tsani dan tsalis diajarkan kitab-kitab yang lebih ringan seperti Ta’limul Mutaallim, dll.

Adapun tenaga pengajar untuk mustawa awal, benar-benar dipilihkan dosen-dosen yang berkompeten dibidangnya terutama yang berlatar belakang pendidikan luar negeri. Ada yang alumni Timur Tengah seperti Mesir dan Sudan dan ada yang alumni Barat seperti Australia, Inggris, dan Belanda.

Kalau saya perhatikan, rata-rata santri An-Nur merupakan alumni pesantren di pelbagai kota di Jawa Timur, Jawa Tengah bahkan Jawa Barat, hanya sedikit yang bukan berlatar belakang pesantren. Walaupun demikian, penguasaan terhadap teks Arab dan Inggris bervariasi sehingga diperlukan tingkatan-tingkatan untuk mempermudah penentuan materi ajar.

Dari segi pembinaan mental, pengasuh mewanti-wanti agar sholat berjama’ah tetap ditegakkan, terutama sholat jama’ah magrib, isya dan subuh. Untuk sholat subuh ini, banyak lelaku yang perlu diceritakan kembali.

Semua santri sepakat bahwa pengasuh sangat istiqamah dalam menjalankan sholat jama’ah subuh di pondok walaupun kediaman beliau pada saat itu berlokasi jauh dari pondok. Sebelum adzan subuh dikumandangkan,biasanya beliau sudah berada di pondok, sementara santri masih tidur dengan pulasnya. Kelilinglah beliau membangunkan santri dari kamar satu ke kamar lainnya. Bahkan kadang-kadang beliau sendiri yang mengumandangkan adzan subuh karena belum adanya santri yang bangun tidur. Hal seperti ini beliau lakukan hampir setiap hari tanpa ada rasa capek dan mengeluh.

Padahal kalau diperhatikan, ada juga santri yang dableg. Ketika pak Yai pindah membangunkan santri kamar sebelah, dia melanjutkan tidurnya, ketika didatangi untuk kedua kelinya, dia malah pindah tidur di lantai tiga tempat jemuran pakaian. Santri seperti ini tidaklah semua tapi ada diantara sekian banyak santri yang berkelakuan seperti itu. Ini juga berdasarkan cerita kawan-kawan sendiri.

Bagi alumni angkatan di bawah saya, (tahun 2001 ke bawah) tentu memiliki banyak cerita yang lebih heboh lagi bersamaan dengan telah dibukanya santri putri. Saya dan kawan-kawan yang laen, ketika itu, mengharap-harap cemas cepat dibukanya pendaftaran santri putri, siapa tau bisa dapat jodoh dengan mereka. Itu hanyalah tinggal harapan karena sampai kami keluar, pendaftaran santri putri belum dibuka juga. Penonton kecewa, hehehe, becanda!

Saya mendengar dari bisik-bisik tetangga, ternyata harapan saya di atas benar adanya. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa santri yang berjodoh dengan santriwati An-Nur. Kalau tidak salah ada lebih kurang delapan sampai sepuluh pasangan yang telah meresmikan cinta mereka ke jenjang pernikahan, sebut saja misalnya ustadz Sauki Amin dengan istrinya. Ini namanya ustadz ya’kulut tilmidzah hahaha. Ampun ustadz Sauki becanda!. Mudah-mudahan mereka semua menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Aamiin.

Alumni An-Nur, setelah mereka pulang ke kampung halaman, berdasarkan kontak-kontak antar kawan, banyak dari mereka yang telah kecipratan do’a yang dipanjatkan oleh pengasuh siang dan malam. Mereka telah sedang dan akan memberikan manfaat kepada masyarakat lingkungannya. Ada yang berprofesi sebagai pengasuh pondok, dosen, penulis hebat, guru berprestasi, kepala KUA, pegawai PA, Tentara, wiraswasta yang berhasil dan berbagai macam profesi lainnya yang tentu saja memberikan manfaat kepada orang banyak.

Semua capaian itu, sekali lagi tidak lepas dari usaha yang bersangkutan dan do’a orang tua, sang guru, dosen dan kyai yang pernah membimbing dan mengarahkan sejak bangsu madrasah sampai bangku kuliah. Wallahu a’lam.
Bersambung…

Surabaya, 12 Juli 2017

*Alumni pertama angkatan tahun 1994 asal Bima NTB.

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

About PESMA AN-NUR

mm

Check Also

Diaspora Kaum Yahudi

Share this...  Setelah persatuan dan kesatuan Kerajaan Israel warisan king David dan Solomon itu tak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *