Home / Artikel / Reuni Akbar dan Lounching Buku; (2) Sejarah Pendirian dan perkembangan Pesma An-Nur

Reuni Akbar dan Lounching Buku; (2) Sejarah Pendirian dan perkembangan Pesma An-Nur

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

Oleh : Dr. Syukri Abu Bakar*

Pengasuh bersama pak mahir, alumni angkatan pertama

Pada kesempatan ini, pengasuh pesma An-Nur Dr. KH. Imam Ghazali Said, MA. yang didampingi oleh senior yang merangkap ustadz dan pengurus pondok ustadz Mahir Amin, M.Ag., sedikit menceritakan bagaimana awal mula Pesma An-Nur dibangun.

Menurutnya, kalau hendak mendirikan pesantren harus bersikap ideal dan realistis. Artinya harus melihat keadaan sekitarnya apakah pesantren yang akan didirikannya itu bisa diterima atau tidak. Boleh berkeinginan mendirikan pesantren yang mewah dan bagus tapi harus melihat realita yang dihadapi.

Karenanya, banyak orang yang mau berguru kepada beliau untuk mendirikan pesantren, tapi usianya kebanyakan 50 tahun ke atas, menurutnya, usia setua itu tidak cocok untuk mendirikan pesantren karena waktu untuk mengelola pesantren terlalu sebentar, keburu dipanggil oleh yang Maha Kuasa.

Untuk Pesma An-Nur sendiri, beliau secara berterus terang mengakui bahwa terwujudnya Pesma An-Nur ini 95 % benar-benar atas jasa mertua beliau almarhum H. Muhammad Nur, sehingga untuk mengenang jasa beliau dinamailah pesantren tersebut dengan An-Nur yang berarti cahaya. Harapannya agar semua alumni An-Nur dapat menerangi masyarakat lingkungannya dengan cahaya ilmu.

Mendirikan pesantren An-Nur, menurutnya bukan tanpa tantangan dan rintangan. Banyak tantangan yang dihadapi, seperti keraguan banyak kalangan terhadap keberlangsungan pesantren atau hambatan dan cobaan lainnya, tapi itu semua harus dihadapi dengan hati dingin disertai usaha optimal untuk menjalankannya. Setiap usaha yang dilakukan secara istiqamah dan tulus ikhlas pasti akan menuai hasil. Begitu kira-kira dalam pikiran pengasuh.

Pengasuh bercerita bahwa sebelum Pesma An-Nur didirikan, beliau telah membuat proposal pendirian Pesantren al-Hikam Malang milik al-Marhum KH. Hasyim Muzadi. Kalau KH. Hasyim Muzadi, memang pada saat itu sudah menjadi tokoh, sementara pengasuh An-Nur, menurut pengakuannya, ketika mendirikan pesantren An-Nur belum banyak dikenal dan belum menjadi tokoh setenar KH. Hasyim Muzadi.

Pengasuh menegaskan bahwa mendirikan pesantren tidak harus menjadi seorang tokoh besar terlebih dahulu. Tidak menjadi seorang tokoh tenar, jangan menjadi penghalang untuk berbuat baik, tegasnya. Mendirikan pesantren bisa dilakukan oleh siapa saja, tapi harus terlebih dahulu menata niatnya untuk apa pesantren tersebut didirikan. Disamping itu, harus juga mengukur dirinya apakah dia mampu atau tidak dalam mengelola pesantren yang akan didirikannya.

Ketika Pesma An-Nur telah berdiri dengan bangunannya yang dua tingkat itu, maka pengasuh mencoba menemui al-Marhum gus Dur, meminta kepada beliau untuk meresmikan pesantren An-Nur yang terletak di Gg. Modin Wonocolo Surabaya. Pada saat itu, al-Marhum gus Dur menyanggupi permintaan tersebut.

Banyak orang mencibir pengasuh dengan mengatakan bahwa gus Dur tidak bakalan hadir dalam acara peresmian tersebut. Menanggapi cibiran orang tersebut, pengasuh membiarkan saja. Yang jelas, tambah pengasuh, “Datang atau tidak datangnya gus Dur itu tidak penting, yang penting adalah pesantren tetap jalan”.

Lebih lanjut pengasuh menceritakan bahwa Undangan peresmian pesantren An-Nur dijadwalkan jam 08.30 wib, tapi gus Dur sudah hadir di Pesma An-Nur pukul 06.30 wib. Sementara beliau masih berada di rumahnya di wilayah Sidosermo. Oleh karenanya, pengasuh meminta bantuan dengan menelpon Yai Ali Maschan Musa untuk menemani gus Dur di Pesma An-Nur sembari pengasuh lekas-lekas menuju Pesantren.

Dengan kehadiran gus Dur pada acara peresmian Pesma An-Nur tersebut, banyak orang bertanya-tanya, kok bisa pengasuh Pesma An-Nur menghadirkan orang sekaliber gus Dur. Dengan berkelakar, pengasuh mengatakan dalam bahasa Jawa “Cilik-cilik kan wali”, sembari tertawa dan tersenyum yang disambur gerrrr oleh audiens.

Pada tahun 1997-1998, untuk sementara waktu, pengasuh meninggalkan An-Nur untuk melanjutkan kuliah doktoralnya. Menurut penuturannya, sebenarnya Seminar proposal sudah selesai tapi terkendala dengan masalah keuangan yang pada saat itu nilai dolar naik melambung tinggi sehingga kalau ditotal biaya yang akan dikeluarkan bisa mencapai ratusan juta. Maka diputuskanlah untuk menunda penyelesaian program doktor dan akan diselesaikan di Indonesia.

Sebenarnya, beliau ingin sekali menyelesaikan doktoralnya bersamaan dengan KH. Ahmad Zahro, MA. di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tapi pengasuh tidak bisa meninggalkan Surabaya karena harus mengelola Pesma. Beliau menunda sampai program doktor dibuka di IAIN Surabaya.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, pada tahun 2004, Pengasuh memutuskan untuk menerima pendaftaran santri putri. Di luar dugaan, ternyata banyak peminat yang mendaftar, sehingga menambah jumlah santri yang mondok di An-Nur. Kebetulan setahun sebelumnya, tepatnya pada tahun 2003, pengasuh telah membangun rumah di sebelah timur Pesma An-Nur dan mendiaminya. Sehingga dengan menyatunya kediaman pengasuh dengan Pesma mempermudah interaksi pengasuh dengan santri.

Pendidikan dan pengajaran di Pesma An-Nur.

Sebagaimana yang telah diutarakan pada tulisan yang pertama bahwa metode pengajaran yang diterapkan di Pesma An-Nur diatur secara berjenjang. Ada mustawa awal, mustawa tsani, dan mustawa tsalis. Saya tidak tau perkembangan selanjutannya apakah ada mustawa-mustawa lain, perlu konfirmasi lebih lanjut.

Disetiap mustawa, kitab yang menjadi bahan kajian berbeda-beda dilihat dari kemampuan penyerapan para santrinya. Kitab-kitab tersebut dikaji sampai dengan khatam. Caranya yaitu pengasuh membacakan teks kitab lalu diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, sembari menjelaskan nahwu sorof dan maksud yang terkandung dalam teks yang dibaca tersebut. Setelah dirasa cukup, pengasuh memberi kesempatan untuk berdialog barangkali ada yang perlu ditanyakan dan didiskusikan, setelah merasa puas dengan penjelasan yang disampaikan oleh pengasuh, maka pertemuan pun diakhiri.

Pertemuan berikutnya, santri secara bergilir membaca kembali teks yang telah dibahas pada pertemuan sebelumnya, setelah itu baru pengasuh memulai kajian item berikutnya. Metode kajian seperti ini dilakoni sampai dengan mengkhatamkan kitab tersebut.

Dari hasil kajian terhadap kitab-kitab tersebut, pengasuh dengan kemampuan akademiknya, telah melahirkan terjemahan kitab dan beberapa buku yang mengkaji sejarah kehidupan pengarang, sistematika penulisan kitab dan metodologinya.

Oleh karenanya, pengasuh, pada setiap akhir karyanya, selalu berterima kasih kepada semua santri atau murid atau teman yang telah terlibat dalam pergumulan keilmuan dengan beliau. Beliau katakan, bahwa beliau tidak menganggap santrinya sebagai santri, tapi beliau anggap sebagai teman belajar. Seperti itulah yang dicontohkan oleh Imam Syafi’i. Namun demikian, santri harus tetap menjaga sopan santun tatakrama terhadap pengasuh, alias tidak ngelunjak. Begitu barangkali yang beliau pesankan.

Adapun buku yang dilaunching pada saat reuni tersebut adalah buku yang membahas tiga kitab karangan ulama pembaharu, diantaranya adalah; Mukhtashor Ihya Ulumuddin, karya al-Imam Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhamad al-Ghazali, Bidayatul Mujtahid, karya Ibnu Rusyd, dan Al-Muwafakat Fi Ushulis Syari’ah, karya al-Syatibi.

Untuk lebih detailnya bagaimana pengasuh melakukan kajian terhadap ketiga kitab tersebut, dapat dibaca langsung setelah buku itu rampung dicetak dalam waktu dekat ini. Sebagaimana yang disampaikan oleh beliau bahwa acara launching buku mendahului dari percetakannya. Semoga pencetakannya cepat rampung sehingga kita dapat mengambil banyak ilmu dalam buku tersebut. Aamiin. Wallahu a’lam

Surabaya, 13 Juli 2017

 

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

About PESMA AN-NUR

mm

Check Also

Diaspora Kaum Yahudi

Share this...  Setelah persatuan dan kesatuan Kerajaan Israel warisan king David dan Solomon itu tak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *