Home / Artikel / Whatsapp Dan Kita

Whatsapp Dan Kita

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest
Ilustrasi

“Ilmu,” kata Emha Ainun Nadjib, “tidak bisa diberikan karena ilmu hanya bisa dicari dan ditemukan sendiri.” Budayawan kondang itu kemudian menegaskan bahwa semua guru di sekolah atau kampus itu tidak memberi kita ilmu, tetapi sekadar alat untuk mencari ilmu.

Kehidupan dunia ini memang hamparan ilmu. Saya sendiri berusaha menemukan ilmu dari setiap episode kehidupan yang saya alami, sekecil apa pun. Kalau direnungkan, pasti ada ilmu di situ. Terlebih di dunia digital, setiap detik muncul lalu-lalang ilmu yang sayang dilewatkan.

Contoh yang mudah disebut adalah grup WhatsApp. Di media sosial satu ini, banyak sekali ilmu hidup, terutama tentang manusia. Kalau dulu ada istilah “ucapanmu adalah cermin hatimu”, maka yang pas di era media sosial adalah “status dan komentarmu itulah dirimu.”

Ada tipe orang yang senang sekali membikin grup WhatsApp. Dalam suatu urusan yang membutuhkan komunikasi sedikit penting saja langsung dibikinkan grup. Tidak jarang, anggotanya cuma beberapa orang saja. Namun, mungkin dia merasa lega kalau sudah ada grup.

Saya termasuk orang yang sangat membatasi grup di WhatsApp. Sampai sekarang, yang saya ikuti tidak banyak, hanya grup-grup WhatApp yang saya pandang benar-benar penting. Jika tidak, biasanya saya langsung keluar, siapa pun orang yang memasukkan saya ke situ.

Itu mungkin tipe saya. Bahkan, ketika sudah masuk grup pun, tidak semua postingan atau komentar saya baca. Apalagi kalau postingan atau status itu hanya bernada kebencian dan provokasi, bukan hanya tidak saya baca, melainkan pasti langsung saya hapus.

Karena grup saya tidak banyak, maka saya hafal orang-orang yang suka mengunggah postingan seperti itu. Begitu muncul postingan dari yang bersangkutan, biasanya segera saya hapus. Maaf, saya menjaga agar hanya informasi yang “adem-adem” saja yang masuk ke pikiran saya.

Ada memang beberapa orang yang senang sekali mengunggah sesuatu yang mengaduk emosi itu. Bisa berupa tulisan, gambar, atau video mengenai isu sensitif. Perkara ada orang lain yang tersinggung atau sakit hati, tidak masalah. Yang penting adalah dia puas.

Tipe lain manusia di grup WhatsApp adalah gemar mengunggah informasi yang tidak nyambung dengan “visi dan misi” grup. Contoh, di grup guru ngaji, dia mengunggah ujaran kebencian terhadap tokoh politik. Ketika diperingatkan, malah ngeyel dan merasa benar.

Yang banyak tentu silent reader. Mereka ini anggota yang diam, tetapi aktif menyimak. Di semua grup WhatsApp, tipe silent reader adalah yang terbanyak. Bahkan, boleh dikatakan, silent reader ada di seluruh akun media sosial jenis apa pun, dan paling besar jumlah mereka.

Menariknya, ada pula anggota grup yang diam saja, namun begitu ada sanjungan menyangkut dirinya, di situ dia baru berkomentar. Kadang panjang sekali dan tidak sudah-sudah. Kuncinya, komentar bagus itu harus tentang dirinya. Kalau tentang selain dirinya, tentu dia kembali diam.

Saya juga menemukan anggota grup WhatsApp yang suka mencari-cari anggota wanita yang bening. Tentu tipe semacam ini diidap oleh anggota lelaki. Kalau sudah ketemu, biasanya lalu dijapri, diajak kenalan, atau ngobrol apa saja, asal dia dapat PDKT dengan wanita itu.

Tidak ketinggalan juga anggota grup yang tidak muncul kecuali untuk mengkritik atau mendebat orang lain. Dia nongol ketika mau merespons postingan anggota lain. Di paragraf bagian awal memang memuji, tetapi di akhir pasti mengkritik begini dan begitu. Setelah itu, dia hilang lagi.

Ada juga yang berusaha menyenangkan anggota grup lain. Jadi, setiap ada postingan, selalu dia komentari. Kadang anggota baik hati ini tidak membaca atau menyimak postingan. Pokoknya, dia kasih pujian untuk menyenangkan anggota yang telah mengunggah postingan di grup tadi.

Media sosial jelas bukan hanya WhatsApp, namun WhatsApp adalah yang paling karib dengan kita, karena setiap saat kita buka, terutama grup-grupnya. Di atas itu pengamatan subjektif saya. Mungkin ada penambahan, penambahan, bahkan penyempurnaan dari Jenengan. Monggo.

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

About M. Husnaini

mm
M. HUSNAINI : Alumni Pesma An-Nur Surabaya Angkatan 2003. Penulis dan Penyunting Sejumlah Buku

Check Also

Diaspora Kaum Yahudi

Share this...  Setelah persatuan dan kesatuan Kerajaan Israel warisan king David dan Solomon itu tak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *