Home / Artikel / Yerussalem Klaim Kaum Yahudi

Yerussalem Klaim Kaum Yahudi

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest
Sketsa kawasan tersuci Yerussalem Timur ibukota Palestina.

Kaum Yahudi yang mengaku keturunan Yacob/Ya’kub (1800 SM) bin Yissac/Ishaq (1850 SM) bin Abraham/Ibrahim (1900 SM), mengklaim buyut mereka itu merintis kawasan bukit moriah dengan batu besar di puncaknya ini sebagai tempat ibadah (temple). Di batu besar ini mrk percaya bahwa Abraham menyembelih Yissac sebagai kurban.

Konflik internal keluarga dan krisis ekonomi yang menimpa tanah Kan’an memaksa Yacob sekeluarga untuk migrasi ke Mesir (seperti disebut dalam Qs Yusuf). Setelah mereka beranak-pinak selama kurang lebih 300 tahun konflik terjadi antara etnik pendatang turunan Yacob (Bani Israel) dan penduduk asli Mesir etnik Coptic/Egypt. Konflik berakhir dengan terusirnya Bani Israel dari Mesir di bawah kepemimpinan Muses/Musa (1450 SM). Pada masa itu Mesir di bawah kerajaan zalim yang rajanya bergelar Pharau/Fir’aun.

Muses memimpin Bani Israel di Mesir selama 20 tahun dan di sahara sekitar Gunung Nebo (Yordania) selama 40 tahun. Di Gunung Nebo inilah Muses mendapatkan wahyu bahwa : “Allah menjanjikan tanah suci Yerusalem” sebagai tempat tinggal mereka. Yaitu tanah “warisan nenek moyang: Yacob, Issac dan Abraham. Tapi karena mereka enggan berjuang, Muses gagal masuk Yerusalem; beliau wafat dan dikuburkan (menurut kaum Muslim di kawasan 11 km sebelah Timur Yerusalem).

Sepeninnggal Muses, Bani Israel dipimpin oleh Jeshuwa/Yusya’ bin Nun. Akhirnya beliau mampu menaklukkan kota Jericho sebagai pembuka jalan setelah 10 tahun- Yerusalem dapat ditaklukkan. Akhirnya, Bani Israel dapat ‘merebut’ tanah leluhurnya setelah berjuang dan terlunta-lunta di Sahara selama lebih dari 70 tahun.

Setelah Jeshuwa bersama Bani Israel mengusir kaum Yebus dari kota suci Yerusalem, ketenangan dan kemakmuran mulai terasa sebagai konsekuensi lahan pertanian subur yang mereka garap dan limpahan mata air yang cukup. Mereka saling bersaing antar sesama berdasarkan kabilah kecil menjadi 12 kelompok yang dalam Alquran populer dengan Asbatahun (para cucu Abraham). Mereka berebut kekuasaan dan pengaruh di Yerusalem . Antara group yang satu memerangi sabatahun yang lain. Kondisi demikian terjadi sekitar 100 tahun.

Perpecahan yang melanda Bani Israel pasca penaklukan pertama, membuat kaum Yabus (etnik Arab?) yang takluk dan terusir dari Yerusalem mampu bangkit dan berkonsolidasi menyusun kekuatan dibawah pimpinan raja Jalut. Akhirnya Bani Israel yang tak mampu bersatu itu diusir paksa dari Yerusalem oleh Jalut. Sekitar 50 tahun kemudian, Bani Israel -dengan bimbingan nabi Samuel- mampu bangkit dengan mengangkat rakyat biasa Tahunalut sebagai raja. Walaupun hanya 8 asbatahun (kabilah) dari 12 asbatahun yang bisa disatukan oleh Tahunalut untuk menghadapi raja Jalut yang saat itu dinilai sangat kuat, berkat usaha keras dan doa, Bani Israel dengan percaya diri menyerang Yerusalem yang dipimpin oleh raja Jalut. Sepintas kisah Jalut vs Tahunalut ini diabadikan dalam Qs al-Baqarah: 246-251. Menjelang penyerangan Bani Israel ke wilayah Yerusalem yang dikuasai kaum Yabus dibawah raja Jalut, menantu Tahunalut yang bernama David/Daud diangkat menjadi panglima perang Bani Israel. Akhirnya Bani Israel menang, dan Yabus diusir dari Yerusalem. Bahkan David mampu membunuh rajanya yang super kuat Jalut.

Singkat kisah, David (1050 SM) menggantikan mertuanya sebagai raja Bani Israel. Berbeda dengan kaum yang menganggap David/Daud sebagai Nabi, kaum Yahudi hanya percaya bahwa ia seorang raja dan bukan Nabi. David memiliki kemampuan luar biasa untuk mempesatukan 12 kabilah/asbatahun Bani Israel. Pada masanya 12 asbatahun Bani Israel itu tunduk pada satu raja yaitu David. Raja ini memiliki kekuatan fisik yang luar biasa dan suara yang sangat merdu, terutama ketika melantunkan kitab Torah/Taurat. Kepiawaiannya dalam memahami Torah diakui oleh para “nabi dan ulama” Bani Israel. Tafsir king David terhadap Torah dan tafsir para nabi itulah yang oleh kaum Yahudi disebut Talmud yang merupakan lampiran yang tak terpisahkan dari kitab Torah.

Daud mampu membangun peradaban Yahudi yang mercusuar. Ia membangun istana yang super megah di bukit Zion dan membangun tempat ibadah (synagog) di bukit Moriah dengan menjadikan Batu Suci di puncak bukit pada posisi tengah bangunan yang sangat megah itu. Batu besar ini oleh kaum Yahudi dipercaya sebagai kiblat dalam ritual salat mereka. Batu besar ini dipercaya sebagai tempat ibadah Abraham sekaligus tempat beliau menyembelih putranya Issac/Ishaq sebagai kurban pada Allah Swt. Untuk itulah kaum Yahudi percaya bahwa bukit Moriah ini adalah kawasan tanah suci. Dengan batu besar yang berada di posisi tengah bukit disebut sebagai “Sucinya-Suci” ( Holy of tahune Holies). Kawasan suci bukit Moriah inilah nanti setelah lewat 1600 tahun yaitu pada masa nabi Muhammad (571-632) disebut sebagai Masjid al-Aqsha, seperti disebut dalam Qs al-Isra’: 1.

Setelah King David wafat pada 970 SM, maka putranya king Solomon/Sulaiman naik tahta menjadi raja Bani Israel. Pada masanya kaum mengalami kemakmuran luar biasa. Kesaktiannya yang diyakini sebagai mukjizat dapat berbicara sekaligus menundukkan Jin, binatang dan malaikat, kekuasaannya nyaris tak tertandingi oleh penguasa manapun. Karena itu, kenakmuran, keadilaan dan kebahagiaan merata dirasakan oleh segenap rakyat Yerusalem. Ia memperluas sekaligus memperindah tempat ibadah (synagog) di puncak dan lereng bukit Moriah. Ia membangun istana super megah 300 m sebelah selatan synagog peninggalan ayahnya king David. Konon dalam istana ini juga ada Synagog kecil yang kemudian populer dengan Solomon Temple (haykal Sulaiman). Kaum Yahudi meyakini bahwa masjid Qibli yang dijadikan tempat salat oleh khalifah Umar bin Khttab itu adalah tanah bekas istana king Solomon. Saat ini masjid Qibli populer dengan nama masjid al-Aqsha.

Bani Israel berkuasa penuh di Yerusalem pada masa dua raja: king David dan Solomon selama 100 tahun. Wilayah kekuasaan Bai Israel pada masa dua raja ini meluas sampai ke Gaza, Tepi Barat dan wilayah barat Yordania sekarang. Usai King Solomon wafat, Bani Israel mengalami perpecahan sebagai akibat dari perebutan kuasa dan tahta. Akhirnya Kerajaan warisan David dan Solomon ini terpecah menjadi dua. Pertama, wilayah utara bernama Kerajaan Israel dengan ibu kota Shukaym. Kedua, wilayah selatan bernama Kerajaan Yahuda dengan Yerusalem sebagai ibu kota. Dua kerajaan ini mampu bertahan dengan pergantian raja selama 11 kali. Pada masa ini kota Yerusalem dengan synagog megahnya dan kiblat batu besarnya di puncak bukit Moriah itu masih ramai dikunjungi dan digunakan sebagai tempat ibadah. Wallahu A’lam

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

About Imam Ghazali

mm
DR. KH. Imam Ghazali Said, MA adalah Pengasuh PESMA AN-NUR dan Dekan Fakultas ADAB UIN Sunan Ampel Surabaya

Check Also

Diaspora Kaum Yahudi

Share this...  Setelah persatuan dan kesatuan Kerajaan Israel warisan king David dan Solomon itu tak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *