Home / Artikel / Catatan Sang Penulis Part-1*

Catatan Sang Penulis Part-1*

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

Setiap apa yang dilakukan manusia selalu ada dampak yang mengikutinya.
Baik buruknya dampak itu tergantung apa yang ia lakukan.
Karena itu mulailah melakukan sesuatu yang bermanfaat
supaya kelak kita tersenyum dengan apa
yang kita lakukan.”

(Endrik Safudin)

Suatu malam, ada seorang anak muda yang merenung. Anak muda itu merenung memikirkan tentang apa yang hendak ia tulis saat itu. Tiba-tiba ditengah asyiknya merenung, datanglah sesosok tubuh yang membuyarkan renungannya. Sesosok tubuh yang selalu mengajarkan perjuangan dan semangat hidup. Dia adalah ayahnya.

“Apa yang engkau pikirkan anakku?”, tanya sang ayah.

“Saya lagi memikirkan apa yang hendak saya tulis yah.” Jawab sang anak.

“Buat apa engkau menulis”

“Sebab saya merasa hidup ini sangat bermakna”

‘Mengapa bermakna?” Tanya Sang ayah.

“Karena setiap hari diperjalanan hidupku aku menemukan sesuatu yang bermanfaat yang harus aku beritahukan kepada orang lain. Karena itulah aku terus menulis. Jika tidak penemuanku itu selalu menjejal dan menghantui untuk ditulis.” Jawab sang anak.

“Bukankah apa-apa yang engkau lakukan akan sia-sia, berhentilah menulis bersenang-senanglah dengan teman-temanmu!” kata sang ayah dengan tersenyum.

“TidakYah, sesuatu yang aku lakukan tidak akan sia-sia. Karena dengan menulis, ketika mati, yang tidak menulis akan dilupakan, dan saya tidak ingin yang demikian.” Jawab sang anak.

“Bukankah menulis itu melelahkan?” tanya sang ayah.

Meskipun melelahkan, setidaknya jika aku menulis, maka aku ada.

“benar nak, ayah hanya ingin tahu niat sejatimu mengapa kamu ingin menulis.”

Ingatlah nak, niat yang baik yang akan menuntunmu. apa yang engkau lakukan tidak akan pernah sia-sia. Kelak, kamu akan menikmati dan tersenyum manis terhadap apa yang engkau lakukan saat ini. Engkau akan memetik buahnya bukan saat ini tapi nanti. Sabarlah dan pupuklah kesabaranmu serta jangan putus asa.”

***

 Cerita di atas hanya sebuah khayalan yang jika cermati dengan mendalam akan memberikan gambaran yang indah tentang dunia tulis menulis. Ya tentang dunia tulis menulis. Dunia tulis menulis yang sebagian orang mungkin dianggap remeh tetapi sulit untuk dilakukan dan sesungguhnya menyimpan manfaat yang besar bagi sang penulisnya.

Menulis sesungguhnya menjadikan penulisnya lebih hidup dan bermakna. Karya yang dihasilkan sang penulislah yang menjadikan ia lebih hidup dan bermakna. Sang penulis berusaha menggambarkan pengalaman-pengalaman yang di dapatnya melalui karya yang dihasilkannya. Karyanya merupakan catatan-catatan kecil pengetahuan yang diperolehnya. Karya itulah yang akhirnya akan menjadi peninggalan sejarah dari sang penulis.

Sesunggunya karya sang penulis merupakan lembaran-lembaran sejarah dari sang penulis sendiri. Sang penulis berusaha mencatat sejarahnya sendiri. Sejarah yang diharapkan akan menjadi kenangan yang indah bagi sang penulis kelak. Sejarah yang juga diharapkan menjadi torehan kenangan bagi yang menikmati karyanya. Ya sejarah, karena sang penulis menyadari bahwa suatu saat setiap orang akan menjadi sejarah bagi orang lain, di saat itulah sang penulis berusaha menorehkan sejarahnya dalam kenangan para pembacanya.

Jadi, janganlah berhenti untuk bercerita. Janganlah berhenti untuk menulis. Janganlah berhenti untuk mengukir sejarahmu sendiri dengan kebaikan-kebaikan agar kebaikan itu juga bisa dinikmati oleh orang lain juga. Memang menulis kadang melelahkan tapi sesungguhnya kelelahan itu akan terbayar lunas ketika kita melihat hasil dari aktivitas menulis itu. Ya karyalah yang akan membayar lunas dari aktivitas menulis itu.

Wahai sang penulis janganlah berkecil hati. Ingatlah “sesungguhnya yang pertama diciptakan Allah adalah al-qalam, kemudian Allah menjadikan nun, yaitu tinta; lalu dia berkata padanya, “tulislah”. Al-qalam bertanya, “apa yang harus kutulis?”. Ia berfirman, “tulislah apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi sampai hari kiamat, baik perbuatan, peninggalan, maupun pemberian.” Lalu Qalam pun menuliskan apa yang telah terjadi sampai hari kiamat. Itulah maksud Allah dalam ayat: “nun, perhatikan qalam dan apa yang dituliskannya. Begitu sabda Rasulullah SAW. Pertanyaannya, akan kita kita masih enggan berbagi cerita melalui tulisan?.

Buatlah sejarahmu dengan menulis. Tulislah apa yang telah terjadi dalam hidupmu. Angkatlah pengalaman-pengalaman itu kedalam sebuah karya agar pengalaman-pengalaman itu tidak hanya engkau miliki dan jangan membiarkannya terbuang sia-sia. Angkatlah pengalaman-pengalaman itu dalam bentuk tulisan agar bisa dinikmati oleh orang lain. Pengalaman-pengalaman yang engkau telah torehkan dalam sebuah karya akan menjadi sebuah goresan sejarah yang akan tersemat indah di benak orang yang membaca karyamu.

Ingatlah, dalam hidup ini engkau selalu tumbuh dan berkembang. Engkau berjalan dan terus berjalan tanpa engkau sadari dirimu semakin tua. Tapi engkau belum menuliskan sekecil apapun pengalaman yang telah engkau lalui agar pengalaman itu dinikmati juga oleh penerusmu, entah istrimu, anak-anakmu, cucu-cucumu, saudara-saudaramu atau sahabat-sahabatmu. Tidakkah engkau menyesal ketika engkau telah tiada engkau akan mudah dilupakan. Maka Berkaryalah!. Buatlah perbedaan dari kebanyakan orang pada umumnya. Catatlah sejarahmu dengan banyak berkarya. Catatlah sejarahmu dengan menulis. Karena, ketika suatu saat engkau meninggal dan jasadmu sudah terkubur, sesungguhnya engkau masih hidup di benak orang-orang yang masih hidup. Bagi yang masih hidup engkau tetap masih hidup meskipun jasadmu sudah tiada. Bagi mereka karyamu adalah wujud lain dari dirimu. Scipta manent verba volant, yang tertulis akan mengabdi, yang terucap akan berlalu bersama angin.

Dalam sejarah, ada Imam Syafi’i, Imam al-Ghazali, Fariduddin Attar, Jalaluddin Rumi, Muhammad Iqbal, Seyyed Hosein Nashr, Ali Syariati, Hasan al-Banna, Sayyid Qutub, Abdurrahman Wahid, Roscoe Pound, Plato, Arsitoteles, Thomas Hobbes dan masih banyak lagi. Bukankah mereka sudah tiada?. Ya memang mereka adalah para penulis yang sudah meninggal tapi sesungguhnya mereka masih hidup dengan bentuk lain yaitu bukan jasadnya melainkan karya-karyanya. Jasad mereka tidak ada disamping kita tapi karya mereka ada disamping kita. Oleh karena itu, berkaryalah karena karyamu akan menjadikan peninggalan bagi penerusmu. Karyamu akan menjadi peninggalan sejarah bagi dirimu.

Oleh karena itu, jadikanlah karyamu sebagai ladang dakwahmu, da’wah bil-qalam. Tidakkah engkau ingat, ketika nabi Sulaiman as. yang diungkapkan dalam al-Qur’an (QS. Al-Naml) pernah berdakwah lewat tulisan untuk penguasa Saba’ (Ratu Bilqis). Begitu pula Rasul Allah Muhammad Saw. Sering menyampaikan dakwahnya melalui tulisan, antara lain ditujukan kepada kaisar Romawi Timur, Hiracles, Raja Parsi Abrawaiz, Raja Habsyi, Raja Mesir Muqawqis, dan lain-lain, hingga jumlah suratnya sebanyak 105 buah. Oleh karena itu, mulailah saat ini juga engkau menulis. Jadikan tulisanmu sebagai da’wah bil-qalam. Ya da’wah bil-qalam. Maka menulislah!

*Pernah dimuat di  http://www.endriksafudin.com/catatan-sang-penulis-1/

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

About Endrik Safudin

mm
Endrik Safudin : Alumni PESMA An-Nur Angkatan tahun 2003, aktifitasnya sekarang sebagai dosen di salah satu Perguruan Tinggi di daerah JAWA TIMUR dan Penulis buku.

Check Also

Diaspora Kaum Yahudi

Share this...  Setelah persatuan dan kesatuan Kerajaan Israel warisan king David dan Solomon itu tak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *