Home / Artikel / Catatan Sang Penulis Part-2

Catatan Sang Penulis Part-2

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

“Goresan tintamu tidak akan pernah sia-sia, walaupun sedikit yang membaca tulisanmu. Jangan resah, apalagi putus asa. Tetaplah menulis dan jangan menyerah!

Tahu kenapa?

karena sedikit banyak engkau telah memulai mengukir sejarahmu pada kehidupan seseorang. Dan tidak semua orang mau dan bisa melakukannya.”

(Endrik Safudin)

***

Sang penulis dengan qalam (pena) yang dimilikinya sesungguhnya mempunyai nikmat besar yang telah di anugerahkan oleh-Nya. Sang penulis dengan qalam-nya dapat menuliskan buah pikiran, keinginan, harapan, dan perasaan yang ada pada dirinya. Dengan kehadiran qalam-nya ilmu pengetahuan tercatat dengan rapi dan tidak ada sisa sedikitpun. Dengan kehadiran qalam-nya peradapan manusia bisa terus berkembang dan bertahan. Bahkan banyak para pengarang dan pujangga telah mengantarkan bangsanya untuk merdeka, disebabkan percikan tinta (goresan pena) yang ditorehkannya. Mereka para pengarang dan pujangga menjernihkan, mencerahkan dan membangkitkan perasaan yang sama untuk merdeka.

Lihatlah, buku Tanah Air (1922) dan Indonesia, Tumpah Darahku (1928) oleh Muhammad Yamin, Layar Terkembang (1936) oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Di Dalam Lembah Kehidoepan (1940) oleh Hamka, dan lainnya merupakan buku-buku yang memiliki andil dalam membangun kesadaran dan mendorong perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Walau buku-buku ini dihasilkan dalam warna sastra, tetapi sedikit banyak berperan dalam membentuk kesadaran masyarakat Indonesia atas realitas yang dialami sekitarnya secara halus melalui bahasa sastranya.

Di samping itu, ada beberapa tokoh politik dan intelektual yang diketahui menerbitkan bukunya, di antaranya: Tan Malaka dengan karya: Dasar Pendidikan (1921), Tunduk Pada Kekuasaan Tetapi Tidak Tunduk Pada Kebenaran (1924), Naar de Republiek-Menuju Indonesia baru (1924), Semangat Muda (1925), Soekarno dengan karyanya Indonesia Menggugat (1930), Marco Kartodikromo dengan karyanya Tudent Hidjo (1919) dan Rasa Merdeka (1924), Semaun dengan karyanya Hikayat Kadirun (1927), dan lainnya.

Oleh karena itu tidak heran, ketika Michael Foulcault dalam pembahasannya tentang “Diskursus” berpendapat bahwa “Kekuasaan dan pengetahuan saling menyatakan antara satu dengan yang lainnya. Tidak ada relasi kekuasaan tanpa dinyatakan dalam hubungannya dengan wilayah pengetahuan.” Artinya bahwa pengetahuan menjadi modal lahirnya sebuah relasi kekuasaan yang mana ada jenjang yang mengetahui menguasi yang tidak tahu. Dalam soal ini, kehadiran buku yang berisikan serangkaian pengetahuan  tentunya akan mendistorsi relasi kekuasaan yang telah ada antara penguasa (Pemerintah) dan yang dikuasai (Masyarakat). Setidaknya hal ini memberikan satu pandangan penting tentang eksistensi kehadiran buku dalam arus kekuasaan. Sehingga tak heran pihak yang berkuasa senantiasa mengantisipasi hal-hal demikian, tak terkecuali mengontrol keberadaan buku-buku itu sendiri. Secara implisit hal ini sebagai klaim pengetahuan pihak yang berkuasa adalah kebenaran tunggal dan oleh karena itu ia dipandang layak, kredibel, kompeten, dan berwibawa. Sehingga munculnya pengetahuan-pengetahuan yang mengusung kebenaran lain melalui buku justru berpeluang mensejajarkan atau tahap ekstrimnya sampai membalikkan relasi kekuasaan yang telah ada. Yang layak menjadi tak layak, yang kredibel menjadi tak kredibel, yang berkompeten menjadi tak kompeten, dan berwibawa justru dipandang sebelah mata.

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

About Endrik Safudin

mm
Endrik Safudin : Alumni PESMA An-Nur Angkatan tahun 2003, aktifitasnya sekarang sebagai dosen di salah satu Perguruan Tinggi di daerah JAWA TIMUR dan Penulis buku.

Check Also

Diaspora Kaum Yahudi

Share this...  Setelah persatuan dan kesatuan Kerajaan Israel warisan king David dan Solomon itu tak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *