Momen Sakral di Pesma An-Nur Surabaya: Peringatan Nuzulul Qur’an 1447 H dan Khataman Kitab Monumental

Momen Sakral di Pesma An-Nur Surabaya: Peringatan Nuzulul Qur’an 1447 H dan Khataman Kitab Monumental

SURABAYA – Malam Nuzulul Qur’an senantiasa menjadi momentum sakral bagi umat Islam di seluruh dunia untuk mengenang peristiwa agung turunnya wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Peristiwa bersejarah yang bermula di Gua Hira pada 17 Ramadan saat Rasulullah berusia 40 tahun ini, merupakan titik awal diturunkannya Al-Qur’an sebagai hudan (petunjuk) dan kompas bagi kehidupan manusia.

Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).”

Menyambut keberkahan tersebut, Pesantren Mahasiswa (Pesma) An-Nur Surabaya menyelenggarakan Peringatan Malam Nuzulul Qur’an pada Kamis, 5 Maret 2026 yang bertepatan dengan 15 Ramadan 1447 H. Meskipun secara historis Nuzulul Qur’an diperingati setiap tanggal 17 Ramadan, pelaksanaan tahun ini dimajukan dua hari lebih awal. Hal ini dikarenakan pengasuh Pesma An-Nur, Prof. K.H. Imam Ghazali Sa’id, M.A., bersama Ibu Nyai Hj. Nikmah Noer dijadwalkan menunaikan ibadah umrah ke tanah suci pada 17 Ramadan mendatang. Meski maju dari jadwal biasanya, esensi kekhusyukan acara tetap terjaga sepenuhnya.

Nuansa peringatan tahun ini terasa jauh lebih istimewa dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain memperingati turunnya mukjizat Al-Qur’an, Pesma An-Nur juga menggelar prosesi Khatmil Kitab untuk dua karya besar, yaitu Shahih Bukhari karya Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari dan Sirrul Asrar karya Syekh ‘Abd al-Qadir al-Jilani. Kedua kitab tersebut memegang peranan penting dalam kurikulum kepesantrenan di Pesma An-Nur. Kitab Sirrul Asrar secara mendalam mengupas perjalanan spiritual (tarekat dan makrifat), rahasia penciptaan manusia, serta hakikat ibadah seperti shalat dan puasa guna mencapai ma’rifatullah. Sementara itu, Shahih Bukhari merupakan rujukan utama hadis yang menjaga kemurnian ajaran Rasulullah. Di bawah bimbingan langsung K.H. Imam Ghazali Sa’id, para santri telah mengkaji kitab-kitab ini secara intensif hingga berhasil mengkhatamkannya tepat pada pertengahan Ramadan tahun ini.

Sebagai bentuk apresiasi atas ketekunan dan kedisiplinan para santri dalam mengikuti pengajian ngaji posoan (kajian kilatan Ramadan), sebanyak 27 santri dari kajian kitab Sirrul Asrar dan 16 santri dari kajian Shahih Bukhari menerima sertifikat Ijazah (Syahadah) resmi. Predikat yang diberikan pun bervariasi, mulai dari Mumtāz (Istimewa), Jayyid Jiddan (Sangat Baik), Jayyid (Baik), hingga Maqbūl (Cukup).

“Predikat nilai ini tidak diberikan secara sembarang, melainkan ditentukan berdasarkan kedisiplinan dan konsistensi kehadiran para santri selama pengajian berlangsung,” tegas K.H. Imam Ghazali Sa’id dalam sambutannya. Beliau menambahkan bahwa pemberian sertifikat ini bertujuan untuk memicu semangat kompetisi positif (fastabiqul khairat) agar para santri lebih giat dan istiqamah dalam menuntut ilmu agama, meskipun di tengah kesibukan kuliah formal.

Kegembiraan dan rasa haru terpancar jelas dari wajah para peserta khataman. Arini Mawaddati, salah satu santriwati yang menerima syahadah, mengungkapkan rasa syukurnya yang mendalam. “Alhamdulillah, pada bulan Ramadan ini saya dan teman-teman mendapatkan kesempatan yang sangat berharga. Mendapatkan syahadah ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah nikmat sekaligus amanah ilmiah yang harus kami jaga dan amalkan bahkan setelah lulus dari Pesma An-Nur nanti,” tuturnya.

Acara yang berlangsung khidmat tersebut ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Abah Kiai Imam Ghazali Sa’id. Doa tersebut membawa harapan besar agar nilai-nilai Al-Qur’an serta hikmah dari kitab-kitab yang telah dikaji dapat terinternalisasi dalam karakter seluruh santri. Dengan berakhirnya rangkaian acara ini, Pesma An-Nur Surabaya kembali menegaskan perannya sebagai wadah yang mampu menyinergikan kecerdasan intelektual mahasiswa dengan kedalaman spiritual pesantren.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *