Home / Artikel / REAKTUALISASI CITRA KAMPUS ISLAM*

REAKTUALISASI CITRA KAMPUS ISLAM*

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

PENDIDIKAN merupakan pilar penting dalam membangun peradaban yang didasarkan atas jati diri dan karakter sebuah bangsa. Pendidikan dibutuhkan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang militant guna menunjang perannya di masa yang akan datang. Upaya pendidikan yang dilakukan suatu bangsa memiliki hubungan yang signifikan dengan prediksi bangsa tersebut di masa mendatang. Dengan demikian, pendidikan merupakan sarana terbaik untuk menciptakan generasi bangsa, yang tidak hanya memiliki kapasitas intelektual mumpuni namun tetap menaati nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

Indonesia dengan penduduk muslim terbesar di dunia merupakan sumberdaya melimpah yang tak bisa dikesampingkan. Lembaga pendidikan bernafaskaan Islam menjadi alternatif tersendiri disamping pendidikan formal umum lain. Perguruan tinggi Islam tak hanya menyediakan program studi dan jurusan yang berkonsentrasi pada agama namun sudah berkembang juga disiplin ilmu lain layaknya pada universitas umum.

Ada tiga ranah keilmuan yang diunggulkan dan dikembangkan lembaga perguruan tinggi Islam. Pertama, keilmuan Islam murni. Kedua, keilmuan sosial yang meliputi humaniora dan sains. Dan, ketiga, integrasi antara disiplin ilmu agama, sosial dan humaniora. Ketiga ranah itu yang menjadikan perguruan tinggi Islam berbeda dengan perguruan tinggi umum.

Banyak problem

Seiring dengan perkembangan zaman, perjalanan perguruan tinggi Islam ternyata masih mengalami banyak problem. Sehingga jika tidak dicarikan solusi akan terus melahirkan problem lain yang semakin menjangkit. Mulai dari kualitas pembelajaran yang masih terkesan amburadul, fasilitas kurang mendukung, lulusan yang menjadi pengangguran terdidik hingga pada krisis moralitas pada civitas akademikanya.

Dari sini muncul semacam kontradiksi. Di satu sisi lembaga perguruan tinggi Islam merupakan representasi lembaga pendidikan Islam yang mengemban amanah untuk mendidik dan memperdalam pengetahuan agama, namun di sisi lain terdapat perilaku internal civitas akademika yang tidak sinergi dengan semangat ajaran agama. Ini juga termasuk problem yang harus diselesaikan.

Hal yang paling berimplikasi dari problem-problem tersebut adalah citra lembaga perguruan tinggi Islam mulai merosot. Sehingga bukan tidak mungkin akan terjadi degradasi kepercayaan di masyarakat. Hal itu senada dengan apa yang pernah disampaikan Menteri Agama RI, Suryadharma Ali dalam sebuah kesempatan saat melantik para Rektor Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) di Jakarta. Dia menyatakan bahwa telah terjadi penurunan minat kajian ilmu keislaman, termasuk yang terjadi di PTAIN.

Mengelola dan membangun citra lembaga pendidikan tinggi Islam merupakan sebuah kebutuhan di tengah arus keterbukaan informasi dan komunikasi dewasa ini. Mengingat berbagai problem-problem yang penulis sampaikan di awal, maka pendidikan tinggi Islam perlu melakukan rebranding image baik internal maupun eksternal.

Nimpoeno menjelaskan berdasarkan model pembentukan citra, ada empat aspek yang perlu diperhatikan yaitu persepsi, kognisi, motivasi dan sikap. Pertama, persepsi diartikan sebagai hasil pengamatan terhadap unsur lingkungan yang dikaitkan dengan suatu proses pemaknaan yang berarti individu akan memberikan makna terhadap rangsangan berdasarkan pengalamannya mengenai stimulus. Pada wilayah ini perguruan tinggi Islam harus melakukan keterbukaan informasi dan memelihara hubungan baik dengan seluruh stakeholder, baik di tataran internal maupun eksternal.

Pihak kampus harus benar-benar aktif dalam mempublikasikan keunggulannya, baik berupa prestasi mahasiswa dan dosen maupun kontribusi positif kampus bagi masyarakat seperti advokasi atau pengabdian. Tidak hanya itu membangun media ralations sangat penting, sebagai upaya preventif jika nantinya ada pemberitaan negatif tentang kampus. Semua itu perlu penangangan serius sebab sangat berpengaruh pada persepsi publik.

Kedua, kognisi merupakan suatu hal yang berhubungan dengan daya nalar serta pemikiran seseorang, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak jelas menjadi jelas. Akibat dari gambaran ini seseorang memiliki kepercayaan atau pengetahuan terhadap suatu objek. Ketika sudah ada komunikasi dan kedekatan secara emosional, tidak ada lagi saling kecurigaan. Semua komponen sadar bahwa masing-masing elemen memiliki peran dan tanggung jawab untuk bersama-sama sinergi dalam membangun Perguruan Tinggi Islam yang madani.

Ketiga, motivasi adalah suatu dorongan yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan tindakan karena ingin memperoleh sesuatu dan ia menghendaki melakukannya. Mulai tumbuhnya kesadaran diri dari civitas akademika untuk memberikan service terbaik bagi perguruan tinggi. Tak akan ada paksaan untuk bekerja, karena motivasi sudah terbangun dengan baik.

Dan, keempat, sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi atau nilai. Ini merupakan hasil akhir dari proses pembentukan citra. Dapat dilihat bagaimana sikap publik terhadap perguruan tinggi Islam. Apabila rangkaian step di atas berjalan dengan baik, maka hasilnya adalah sikap positif publik yang akan diterima.

Harus berbenah

Bagaimanapun juga perguruan tinggi Islam harus segera berbenah diri, terutama memperbaiki problem-problem primer yang sudah menjadi asumsi negatif publik. Kemudian melakukan langkah-langkah strategis dalam upaya mengembalikan kepercayaan publik terhadap kualitas pendidikan yang diselenggarakan perguruan tinggi Islam.

Menata kembali citra perguruan tinggi Islam sebagai penyedia pendidikan publik hanyalah salah satu usaha yang dapat dilakukan saat ini agar ke depan lebih prospektif. Namun yang tak kalah pentingnya adalah mengevaluasi dan memperbaiki kinerja seluruh elemen yang berkaitan. Sehingga ada sinergitas antara kualitas dan citra, terbentuklah suatu frame pemahaman baru bahwa perguruan tinggi Islam juga dapat bersaing secara kompetitif pada tingkatan lokal, nasional, bahkan internasional. Semoga!

*Artikel ini pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia, Sabtu 04 Januari 2014

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

About Lukman Hakim El Baqeer

mm
Luqman Hakim El Baqeer, Santri angkatan 2010, Jurusan Ilmu Komunikasi Fak. Dakwah UIN Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Wartawan KOMINFO JATIM ini sedang menempuh studi S2-nya di almamaternya. Email: budagponti@gmail.com

Check Also

Diaspora Kaum Yahudi

Share this...  Setelah persatuan dan kesatuan Kerajaan Israel warisan king David dan Solomon itu tak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *