“MUBES OSPM An-Nur 2026 menjadi momentum transformasi organisasi dari sekadar pelaksana teknis menjadi laboratorium kepemimpinan yang progresif. Melalui sinergi antar-santri dan penguatan nilai spiritual-digital, kegiatan ini resmi melahirkan nakhoda baru yang siap mencetak kader berintegritas untuk pengabdian masyarakat yang lebih luas.”
Surabaya – Sabtu, 25 Mei 2026, menjadi hari yang panjang sekaligus bersejarah bagi keluarga besar Organisasi Santri Pesantren Mahasiswa (OSPM) An-Nur. Di bawah langit Surabaya, puluhan santri berkumpul bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban tahunan, melainkan untuk menentukan arah gerak organisasi melalui Musyawarah Besar (MUBES).
MUBES kali ini terasa sedikit berbeda. Dari total 51 anggota OSPM, sebanyak 45 orang hadir memenuhi ruangan. Enam rekan lainnya terpaksa absen secara fisik karena sedang berjibaku menunaikan tugas magang di luar kota. Namun, ruang sidang tidak lantas terasa sepi. Kekosongan kursi itu tertutup rapat oleh riuh rendah diskusi dan semangat kritis para peserta yang hadir. Atmosfer kekhidmatan tetap terjaga, membuktikan bahwa jarak bukan penghalang bagi para santri untuk tetap peduli pada masa depan organisasinya.
Kegiatan diawali dengan pembukaan yang hangat pada pagi hari. Dua sosok sentral Pesma An-Nur memberikan wejangan yang menjadi “kompas” bagi jalannya sidang-sidang berikutnya.
Pengasuh pertama, KH. Imam Ghazali Sa’id, memberikan catatan reflektif yang cukup menohok sekaligus memotivasi. Beliau mengingatkan bahwa OSPM tidak boleh terjebak dalam rutinitas administratif semata. “Tugas penting OSPM An-Nur tidak hanya menjadi penyelenggara acara (EO), tetapi sebagai koordinator jamaah,” tegas beliau. Pesan ini seolah menegaskan bahwa ruh dari OSPM adalah pelayanan dan kepemimpinan sosial, bukan sekadar urusan logistik kegiatan.
Senada dengan hal tersebut, Dr. Muhith Effendy selaku Pengasuh kedua, turut membakar semangat para santri sebelum menutup sesi pembukaan dengan doa. Beliau memandang OSPM sebagai laboratorium kepemimpinan yang nyata. Dengan nada optimis, beliau menyebutkan bahwa tempaan di organisasi ini adalah investasi masa depan. Tak tanggung-tanggung, beliau mengingatkan bahwa alumni organisasi pesantren punya rekam jejak yang gemilang, bahkan hingga menduduki posisi menteri.Memasuki inti acara, dinamika forum mulai memanas saat sesi persidangan dimulai. Dimulai dari Sidang Rantatib (Rancangan Tata Tertib) yang mengatur “rule of the game“, berlanjut ke Sidang AD/ART yang menjadi ajang bedah konstitusi organisasi. Di sinilah kedewasaan santri diuji dalam berargumen.
Momen krusial terjadi saat pembacaan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) satu periode penuh. Ketua OSPM saat itu, Moch. Fayyadul Maula, berdiri di depan forum untuk memaparkan apa yang telah dilakukan selama setahun terakhir. Dalam sambutannya, Fayyad menekankan pentingnya sinergi. Ia berharap OSPM terus menjadi kawah candradimuka yang mencetak kader unggul agar saat terjun ke masyarakat kelak, para santri tidak “gagap” menghadapi ekspektasi sosial yang tinggi.
Lebih dari sekadar pergantian wajah, MUBES kali ini menjadi cermin bagi OSPM untuk melihat sejauh mana mereka telah berdampak. Diskusi yang berkembang dalam sidang tidak hanya berkutat pada urusan teknis, tetapi merambah pada strategi adaptasi organisasi di tengah gempuran era digital. Para peserta sepakat bahwa kader OSPM harus memiliki kecerdasan ganda: cakap dalam manajemen spiritual di pesantren, sekaligus lincah dalam penguasaan teknologi dan komunikasi masa kini.
Transisi kepemimpinan ini membawa harapan akan adanya terobosan program kerja yang lebih inklusif dan kreatif. Sinergi yang ditekankan oleh Moch. Fayyadul Maula bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan mendesak agar OSPM tetap relevan sebagai wadah pemersatu. Dengan berakhirnya ketukan palu sidang terakhir, seluruh anggota baik yang hadir di ruangan maupun yang sedang magang di luar kota kini memikul tanggung jawab kolektif untuk membuktikan bahwa Pesma An-Nur adalah rahim bagi lahirnya pemimpin masa depan yang berintegritas.
Setelah melalui perdebatan panjang di Sidang Pleno, tibalah pada puncaknya: Sidang Pendemisioneran dan pemilihan ketua baru. Suasana haru menyelimuti ruangan saat kepengurusan lama resmi dinyatakan demisioner. Amanah besar dikembalikan ke forum untuk kemudian diletakkan kembali ke pundak pemimpin yang baru.
Pemilihan ketua baru berlangsung dengan semangat kekeluargaan yang kental. Meski ada perbedaan pilihan, tujuan akhirnya tetap satu: membawa OSPM Pesma An-Nur menjadi lebih baik. MUBES 2026 bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah bukti bahwa di tengah kesibukan akademik dan magang, para santri Pesma An-Nur tetap memiliki dedikasi untuk merawat “rumah” mereka. Dengan terpilihnya nakhoda baru, harapan untuk mencetak kader yang lebih bersinergi dan siap mengabdi di masyarakat kini kembali menyala terang.
Selamat berjuang untuk kepengurusan selanjutnya!